Site icon JNewstv.com

Cucu Sultan M. Bakri Do Ali Hadiri Seminar Pengusulan Sultan Zainal Abidin Syah Sebagai Pahlawan Nasional

JNewstv.com | Jakarta – Kehadiran M. Bakri Do Ali Cucu dari Sultan Tidore Zainal Abidin Syah pada Gelar Acara Seminar bertajuk ‘Peran Sultan Zainal Abidin Syah dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI’ di Aula Latief Hendraningrat, Universitas Negeri Jakarta, (UNJ) di Jakarta. Dimana Sultan Zainal Abidin Syah diusulkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional dari Kesultanan Tidore, Kamis (12/03/2020).

Menurut, Ko Bakri, “sebagai Putra Tidore sekaligus Cucu St Zainal Abidin Syah dan putra Zainal Abidin Ali (Uztad Zainal) Saya Mengapresiasi semangat dan upaya Capt Ali Ibrahim selaku Walkot Tikep, Sekda dan Jajarannya, Pihak UNJ, YM Sultan Husain Syah, Walikot Jayapura, ANRI serta serta dukungan berbagai pihak dan masyarakat Kesultanan Tidore maupun masyarakat Tidore yang berdomisili dijakarta sehingga Seminar tersebut dapat terlaksana dengan baik” ucap Ko Bakri

“Secara yuridis formal Beliau sangat layak menjadi Pahlawan Nasional karena itu Pemerintah Pusat seharusnya jeli melihat dan berlaku Adil terhadap masyarakat Maluku Utara, Khususnya Tidore, dengan segera mengangkat beliau sebagai Pahlawan Nasional”. tuturnya.

” Sejarah kultur dan budaya adalah modal utama kita menuju Tidore yang lebih baik sebagai kota Pusaka yang memiliki Kekhususan dalam bingkai NKRI ” Ko Bakri

Wali Kota Tidore Kepulauan Capt. Ali Ibrahim mengatakan Sultan Zainal Abidin Syah mempunyai peran penting dalam memperjuangkan keutuhan NKRI.

“Berkat perjuangan panjang yang dilakukan oleh salah satu putra terbaik bangsa dari kesultanan Tidore tersebut Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini bisa kita katakan dari Sabang sampai Merauke,” kata Ali dalam sambutannya.

Dilansir dari jpnn.com. Suprianto Prasaga yang merupakan tim peneliti sejarah Sultan Zainal Abidin Syah, mengatakan, negara tidak boleh melupakan kiprah Sultan Zainal yang dikenal sebagai tokoh patriotik dan nasionalisme tinggi.

“Beliau ini kan selain Sultan juga sebagai gubernur Papua pertama. Gubernur perjuangan pembebasan Irian Barat. Dia menyuarakan bahwa Irian Barat itu adalah bagian dari NKRI, yang dari kesultanan Tidore,” ucap Suprianto.

Suprianto mengutip ucapan Soekarno mengenai sosok Sultan Zainal Abidin Syah. “Bung Karno bilang, ‘kalau tidak ada Sultan Syah, tidak ada lagu dari Sabang sampai Merauke.”

Sementara Rektor UNJ Dr Komarudin MSi dalam paparannya juga mendukung pengusulan Sultan Zainal Abidin Syah sebagai Pahlawan Nasional.

Alasannya Sultan Zainal sangat patriotik dan nasionalistik karena kecintaannya kepada Republik Indonesia. Yang pada saat itu juga membawahi wilayah Papua.

“Kalau kita memahami sejarah Papua, kita akan tahu betapa besarnya perjuangan Sultan Zainal Abidin Syah bagi NKRI,” kata Komarudin.

Dia mengingatkan, generasi saat ini tidak boleh melupakan sejarah Indonesia. Dia lalu menceritakan salah satu episode sejarah yang menunjukkan patriotik dan nasionalistik Sultan Zainal Abidin Syah.

“Saya sudah mendengar dan mendiskusikan betapa besarnya perjuangan Sultan Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore. Ketika bertemu dengan Presiden Soekarno, ditanya ‘mau ke manakah kesultanan Tidore?’ langsung dijawab ‘masuk NKRI’,” ucap dia.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Sultan Tidore Zainal Abidin Syah sebagai gubernur pertama Provinsi Perjuangan Irian Barat di tahun 1956.

Komarudin menegaskan jawaban Sultan Zainal Abidin Syah sangat mencerminkan nasionalisme dan patriotisme. Sultan Zainal Abidin Syah dengan tegas menjawab Tidore bergabung diri dengan NKRI.

Itu sebabnya, dia menyebut sangat pantas jika Sultan Zainal Abidin Syah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

“Kami menangkap keinginan itu, untuk bersama sama memperjuangkan agar Sultan Zainal Abidin Syah menjadi pahlawan nasional. Tentu kami tidak ragu, karena keinginan masyarakat Tidore mempunya keinginan besar, karena beliau juga memiliki jasa yang sangat luar biasa di NKRI,” tandasnya.

Dr Abdul Haris, dosen UNJ menambahkan, Sultan Zainal Abidin Syah menggunakan cara-cara diplomasi untuk mendapatkan kemerdekaan. Dia tidak menggunakan tindakan militer.

“Meski mendapatkan pendidikan modern di Belanda, tetapi nasionalisme Sultan Zainal sangat tinggi, cinta NKRI, dan seorang keturunan monarki yang bersikap seperti rakyat biasa. Ini sangat patut dicontoh generasi era milenium,” tutupnya. (jn/red)

Exit mobile version