Site icon JNewstv.com

Di Bawah Kibaran Merah Putih, Halmahera Tengah Kenang Al Yasin Ali

WEDA, HALMAHERA TENGAH, JNewstv.com — Ada suasana berbeda dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Halmahera Tengah. Di tengah kibaran Sang Merah Putih dan semangat memperingati hari kemerdekaan, terselip suasana haru ketika masyarakat diajak mengenang dan mendoakan almarhum Ir. H.M. Al Yasin Ali, M.MT.

Upacara yang berlangsung di Pendopo Falcino, Weda, Senin (17/8/2026), bukan sekadar menjadi agenda kenegaraan. Bagi banyak orang, momentum tersebut berubah menjadi ruang untuk mengenang seorang tokoh yang pernah mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk Halmahera Tengah dan Maluku Utara.

Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, dalam kesempatan itu mengajak seluruh peserta upacara menundukkan kepala dan mengirimkan doa untuk almarhum Al Yasin Ali.

Di antara barisan peserta upacara, doa mengalir. Nama seorang mantan pemimpin daerah yang telah berpulang kembali disebut, bukan dalam suasana kampanye atau panggung politik, melainkan dalam keheningan sebuah penghormatan.

Bupati Ikram mengajak seluruh peserta membacakan Surat Al-Fatihah untuk almarhum.

Momen sederhana itu terasa begitu dalam. Sebab, tidak lama sebelum peringatan kemerdekaan, Halmahera Tengah kehilangan salah satu putra terbaik yang pernah memimpin daerah tersebut.

Ketika Kemerdekaan Bertemu Kenangan. Al Yasin Ali dikenal luas sebagai sosok yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan pemerintahan dan pembangunan Halmahera Tengah.

Ia dipercaya memimpin Halmahera Tengah sebagai bupati selama dua periode, 2007–2017. Setelah menyelesaikan pengabdiannya sebagai bupati, kiprahnya berlanjut di tingkat Provinsi Maluku Utara sebagai Wakil Gubernur periode 2019–2024.

Namun, bagi masyarakat, seorang pemimpin tidak selalu dikenang hanya melalui jabatan yang pernah disandangnya.

Ia dikenang melalui perjumpaan, tutur kata, kebijakan, pembangunan, perhatian kepada masyarakat, dan jejak yang ditinggalkan setelah masa jabatan berakhir.

Karena itu, kepergian Al Yasin Ali meninggalkan ruang kehilangan tersendiri bagi sebagian masyarakat Halmahera Tengah.

Di tengah perayaan kemerdekaan, ingatan tentang dirinya kembali hadir.

Merah Putih berkibar. Pasukan pengibar bendera menjalankan tugas dengan penuh kehormatan.

Lagu kebangsaan menggema. Namun di balik seluruh rangkaian itu, ada doa yang dipanjatkan untuk seorang anak daerah yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Bukan Sekadar Mengenang, Tetapi Meneruskan Pengabdian. Bupati Ikram juga mengingatkan bahwa semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persatuan, kebersamaan dan kerja nyata membangun daerah.

Pesan tersebut seolah menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu.

Termasuk melanjutkan cita-cita pembangunan yang pernah diperjuangkan oleh para pemimpin sebelumnya.

Sebab, pembangunan sebuah daerah bukanlah pekerjaan satu orang atau satu masa pemerintahan. Ia merupakan rangkaian panjang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam konteks itulah, mengenang Al Yasin Ali tidak harus berhenti pada kesedihan karena kehilangan.

Kenangan itu dapat menjadi energi untuk meneruskan hal-hal baik yang pernah diperjuangkan.

Doa di Hari Kemerdekaan. Al Yasin Ali telah pergi. Namun namanya masih disebut.

Bukan karena jabatan. Bukan karena kekuasaan.

Melainkan karena jejak pengabdian yang pernah ditinggalkannya.

Di bawah langit Weda, ketika Sang Merah Putih berkibar memperingati 81 tahun Indonesia merdeka, masyarakat Halmahera Tengah menundukkan kepala dan mengirimkan doa.

Sebuah penghormatan yang sederhana, tetapi sarat makna.

Kemerdekaan dirayakan dengan kibaran Merah Putih. Kepergian Al Yasin Ali dilepas dengan doa. Dan bagi mereka yang pernah mengenalnya, kenangan tentang pengabdiannya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan Halmahera Tengah.

Ilham Husen

Exit mobile version