Site icon JNewstv.com

Inovasi DKP Morotai: BBM Subsidi Nelayan Tidak Diperjualbelikan Kembali, Sasar Biaya Logistik dengan Program COD BBM

JNewstv.com | Pulau Morotai — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pulau Morotai menyebut BBM Subsidi adalah hak nelayan saat pembelian di SPBN HET Rp10.000, namun tiba di Desa harganya menjadi lebih tinggi dari HET karena nelayan terpaksa harus mengeluarkan biaya transportasi BBM.

“Biaya transportasi bervariasi tergantung jarak dari lokasi SPBN ke Desa Nelayan,” ungkap Kepala DKP Yoppy Jutan dalam pesan WhatsApp Sabtu, 4 Mei 2024.

Ia mengatakan bahwa rata-rata pengeluaran biaya transportasi BBM yang harus ditanggung oleh nelayan pada setiap Desa adalah 500-1000 rupiah per liter, sedangkan di Pulau-pulau kecil di Morotai mencapai 2000-3000 rupiah per liter.

Pemerintah tidak memberikan tambahan harga subsidi, karena harga HET tersebut sudah termasuk subsidi pemerintah sehingga tidak melanggar aturan.

Menurut Yoppy, DKP Morotai melakukan inovasi COD BBM Nelayan dengan memfasilitasi bantuan transportasi darat dan laut agar harga BBM tidak mengalami kenaikan diluar batas kewajaran dengan alasan biaya transportasi yang tinggi.

“Jadi sasaran kami adalah agar BBM satu harga dapat diterapkan di Morotai, terutama bagi nelayan kecil. Maka, intervensinya pada biaya transportasi nelayan,” kutip keterangan tertulis Kadis DKP.

Subsidi khusus di transportasi BBM nelayan rata-rata sebesar 500-1000 rupiah per liter karena subsidi silang antara nelayan yang jauh dan dekat dari lokasi SPBN.

“Efisiensi pada subsidi transportasi BBM Nelayan sangat besar dampaknya. Selain mengendalikan harga, takaran, dan sasaran penerima, kami dapat mengontrol pengawasan sampai di tujuan,” tegasnya.

Lanjutnya, program COD BBM nelayan di Morotai mendapat apresiasi sebagai salah satu di antara 5 inovasi terbaik nasional Pertamina tahun 2023, bahkan ekspor Tuna Morotai meningkat 138,5% pada tahun 2023.

Karena distribusi BBM nelayan semakin lancar, kata Yoppy, jumlah trip melaut semakin bertambah. Sehingga otomatis volume pendaratan ikan semakin meningkat dan perputaran uang dari transaksi jual beli ikan di level nelayan pun turut meningkat.

Sementara itu, harga BBM di setiap Desa cukup tinggi, yakni 15.000 rupiah bahkan di Pulau-pulau mencapai 20.000 rupiah per liter.

“Bayangkan saja disparitas harga BBM nelayan Morotai antara 5000-10.000 per liter tersebut jika dikalikan volume total BBM yang dibeli nelayan setiap hari selama sebulan bahkan setahun, pasti ada puluhan miliar uang yang dikeluarkan nelayan kita hanya untuk cost logistik BBM,” sambungnya.

DKP Morotai hadirkan Program COD BBM nelayan dengan sasaran untuk menekan angka biaya logistik terutama di transportasi BBM nelayan.

Penulis: M. Bahrul Kurung
Editor: Redaksi

Exit mobile version