
JNewstv.com |Jakarta. Jagat Betara terguncang lagi. Tergopoh-gopoh para punggawa berdesakan di depan pintu, saling mendahului & saling sikut untuk segera masuk menuju meja penjagaan sebelum memasuki pintu utama seberang meja menutupi sebagian singgasana Dipertuan Agong.
Mereka siap melaporkan situasi kekinian di luaran. Masing-masing berbekal informasi yang didapat dari informan masing-masing. Mulai informasi dari media sosial, yang antah berantah, media mainstream, yang entah apa kategorisasinya, hingga mengaku dari sumber A-1 lengkap dengan potongan-potongan video & audio.
Soal akurasi? Masih perlu diuji kebenarannya, bukan soal fakta. Karena, kata jurnalistikologi, fakta itu menyembunyikan Fakta Dibalik Fakta. Contohnya, seseorang mati tergantung dengan leher terikat; memiliki dua asumsi yaitu bunuh diri atau dibunuh (perlu pembuktian penyidikan).
Ups, ngawur dah tuh. Kembali ke Laptop! Singkatnya, setelah diingatkan Punggawa Utama kerajaan akhirnya dirembuk bahwa yang masuk diwakili lima orang karena informasi mirip-mirip yaitu Segelintir Rakyat “menghasut” Rakyat Segelontor mengaku Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia alias KAMI.
Padahal, lebih singkat lagi, keguncangan Jagat Betara itu hanya berasal embusan angin semilir dari rumah makan sudut pinggiran kota di Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (4/8/2020). Cuma yaah cuma para tokoh pemain solo itu bergabung membentuk irama koor, menyanyikan keprihatinan perspektif negeri di luar cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Mulai Ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, hingga hankam.
Mereka mendeklarasikan ke-8 tuntutan di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Para tokoh bangsa serupa Said Didu, Din Syamsudin, Gatot Nurmantyo, Rocky Gerung, Habib Muchsin Alatas dkk, memilih 18 Agustus bertepatan Hari Konstitusi Nasional yaitu UUD 1945 asli.
“KAMI menuntut pemerintah bertanggung jawab menyelamatkan rakyat miskin, petani/nelayan, guru/dosen, tenaga kerja bangsa sendiri, pelaku UMKM dan koperasi, serta pedagang sektor informa|, ketimbang membela kepentingan pengusaha besar dan asing,” ujar Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) periode 2015-2017 itu, Gatot Nurmantyo, kala itu.
Ke-8 tuntutan itu pula akhirnya memunculkan keprihatinan lain dengan memberi “pekerjaan” sebagai mainan para buzzerRp. Tengku Zulkarnaen, dalam cuitan tweetnya pun, mempersilakan membuat tandingan Kamu atau Kita. Dalam hitungan hari, Maman Imanulhaq selaku relawan Jokowi membentuk Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) di Gedung Joeang, Menteng.
Kosakata Kami & Kita, sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia, sama-sama kata pengganti jamak. Bedanya, Kami tidak melibatkan lawan bicara sedangkan Kita melibatkan lawan bicara. Jadi, KAMI bukan KITA dan KITA pasti KAMI. *** (RR)
Penulis : Rinaldi Rais, Wartawan Al-Faqir