
JNewstv.com | HALMAHERA SELATAN – Di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat, warisan kuliner Halmahera Selatan tetap bergeliat dan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Salah satu contoh yang menonjol adalah Kerupuk Kamplang, kuliner sederhana hasil perpaduan olahan sagu dan ikan yang telah menjadi menu favorit di kalangan masyarakat Halmahera Selatan.
Kerupuk Kamplang memiliki sejarah panjang sebagai makanan ringan tradisional yang erat kaitannya dengan kehidupan kuliner dan budaya masyarakat Halmahera Selatan.
Desa Bajo Sangkuang kecamatan Kepulauan Botang Lomang dikenal sebagai penghasil Kamplang terbesar di wilayah ini, didukung oleh mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai nelayan.
“Pembuatan Kamplang ini merupakan warisan dari torang (kita) punya nenek-moyang dari dulu, jadi torang tetap lestarikan,” ungkap Hartati Umar, Ketua UMKM Putri Bajo, kepada JNewstv, Selasa (25/9/2024).
Menurut Susanti Kahar dalam penelitiannya tahun 2023, nama Kamplang berasal dari bahasa Bacan yang berarti “irisan tipis“. Kerupuk ini hadir dalam dua varian rasa: Kamplang original dan Kamplang Rempah.
Proses Pembuatan yang Unik
Proses pembuatan Kerupuk Kamplang membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Berikut tahapan pembuatannya:
1. Ikan dibersihkan dan direbus selama satu jam hingga matang.
2. Ikan yang sudah matang kemudian dihaluskan dan diayak untuk memisahkan tulang-tulang ikan yang tersisa.
3. Tepung sagu (ambulo) dijemur di bawah sinar matahari selama 9-10 jam hingga kering, lalu diayak hingga halus.
4. Ikan, tepung sagu, garam, dan bumbu-bumbu dicampur menjadi satu adonan.
5. Adonan dibungkus dengan kain putih bersih atau plastik, lalu direbus selama 6-7 jam.
6. Setelah matang, adonan dicuci dengan air dingin dan didiamkan selama 2-3 hari.
7. Adonan dipotong tipis-tipis dan dijemur selama satu hari.
“Setelah proses pengeringan, Kamplang siap dipasarkan,” jelas Piter A. Syaranamual dari Kemendikbud dalam penelitiannya tahun 2021.
Cita Rasa yang Melegenda
Kerupuk Kamplang terkenal karena cita rasanya yang khas, mampu menggugah selera penikmatnya.
Biasanya disajikan sebagai cemilan saat bersantai, kerupuk ini telah menarik minat konsumen dari berbagai daerah.
“Sejumlah konsumen dari luar daerah sering pesan Kamplang, ada yang dari Ternate, Manado, dan Jakarta. Kami juga sering memamerkan Kamplang di event-event pameran di luar maupun di dalam Kota Halmahera Selatan,” tambah Hartati.
Menurutnya harga Kamplang bervariasi di pasaran. Untuk ukuran besar, harganya berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per kilogram, sementara ukuran kecil dihargai Rp 25.000 per 200 gram.
Tantangan dan Optimisme
Meskipun permintaan terus meningkat, para produsen Kamplang menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau permintaan konsumen meningkat, kami para ibu-ibu di desa Bajo Sangkuang bisa membuat Kamplang 3-4 ton dalam dua sampai tiga minggu. Jumlah tersebut terkadang juga belum cukup memenuhi kebutuhan,” ungkap Hartati.
Namun, di tengah tantangan tersebut, para pelaku usaha kuliner Kerupuk Kamplang tetap optimistis.
“Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumen. Kerupuk Kamplang adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kita, dan kami berkomitmen untuk terus menghidupkan warisan kuliner Halmahera Selatan,” tutup Hartati dengan penuh semangat.
Keberadaan Kerupuk Kamplang bukan sekadar tentang kuliner, tetapi juga menjadi simbol ketahanan budaya dan kreativitas masyarakat Halmahera Selatan dalam mengolah sumber daya alam mereka menjadi produk bernilai tinggi.
Dengan semangat para produsennya, Kerupuk Kamplang siap melangkah ke masa depan, membawa cita rasa Halmahera Selatan ke penjuru Nusantara.
(Red/ifan)*