BANDUNG, JNewstv.com – Program pembinaan kemandirian melalui budidaya perikanan yang dikembangkan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Bandung mendapat apresiasi dari Ketua Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII), Dra. Kasihhati. Program tersebut dinilai menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif untuk masa depan.
Apresiasi itu disampaikan Kasihhati saat melakukan kunjungan ke Rutan Kelas I Bandung bersama Pengawas Dewan Pers Independen (DPI), Lilik Adi Gunawan, S.H., Jumat (30/10/2026).
Kedatangan rombongan disambut langsung Kepala Rutan (Karutan) Kelas I Bandung, Mashuri Alwi, di ruang kerjanya. Dalam kesempatan tersebut, rombongan mendapatkan penjelasan mengenai berbagai program pembinaan, khususnya kegiatan kerja warga binaan melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Kasihhati mengatakan, program SAE merupakan salah satu bentuk pembinaan yang memiliki manfaat nyata karena memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar, berlatih, dan mengembangkan kemampuan selama menjalani masa pidana.
Menurutnya, pembinaan semacam ini penting agar warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga memperoleh bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke tengah masyarakat.
“Program ketahanan pangan dan budidaya perikanan ini merupakan langkah nyata dalam membangun kemandirian warga binaan. Mereka diberikan kesempatan untuk belajar dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi sebagai bekal setelah bebas nanti,” ujar Kasihhati.
Ia juga menegaskan, FPII siap membangun sinergi dengan Rutan Kelas I Bandung melalui penyebarluasan informasi positif mengenai kegiatan pembinaan dan pemberdayaan warga binaan.
Menurutnya, lembaga pemasyarakatan tidak semestinya hanya dikenal melalui pemberitaan tentang pelanggaran maupun persoalan hukum. Berbagai upaya pembinaan, pendidikan, dan pemberdayaan juga perlu diketahui masyarakat secara luas.
Sementara itu, Karutan Kelas I Bandung, Mashuri Alwi, menjelaskan bahwa program budidaya perikanan merupakan bagian dari kegiatan pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan pihaknya.
Dalam program tersebut, Rutan Kelas I Bandung membudidayakan sekitar 1.000 ekor benih ikan nila, termasuk jenis Nirwana dan Mutiara, serta 300 ekor benih ikan lele di kawasan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
“Program ini merupakan bagian dari upaya kami memperkuat ketahanan pangan sekaligus memberikan ruang pembelajaran bagi warga binaan. Mereka terlibat langsung dalam proses budidaya, mulai dari pemeliharaan ikan, pengelolaan kolam, pemberian pakan hingga pengawasan pertumbuhan ikan,” jelas Alwi.
Ia menambahkan, pelaksanaan program tersebut turut mendapat dukungan bantuan dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Kota Bandung, khususnya dalam mendukung pengembangan ketahanan pangan di sektor perikanan.
Lebih dari sekadar menghasilkan komoditas pangan, kegiatan budidaya ikan tersebut juga diarahkan untuk membentuk karakter warga binaan. Melalui keterlibatan secara langsung, mereka diharapkan mampu mengembangkan kedisiplinan, tanggung jawab, ketekunan, serta keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Alwi berharap, hasil budidaya ikan nantinya dapat memberikan nilai tambah bagi lingkungan Rutan, baik untuk mendukung kebutuhan pangan maupun menjadi bagian dari pengembangan kegiatan produktif yang berkelanjutan.
Pengawas DPI, Lilik Adi Gunawan, S.H., turut menyampaikan apresiasi terhadap program pembinaan tersebut. Ia menilai keterbukaan informasi mengenai aktivitas positif di lingkungan pemasyarakatan penting untuk membangun pemahaman masyarakat yang lebih utuh.
“Sinergi antara FPII dan Rutan Kelas I Bandung menjadi bagian penting dalam menyampaikan informasi kepada publik. Masyarakat perlu mengetahui bahwa di balik tembok pemasyarakatan terdapat berbagai kegiatan pembinaan yang memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan masa depan,” ungkap Lilik.
Alwi juga menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan apresiasi yang diberikan Ketua Presidium FPII bersama Pengawas DPI.
Ia berharap, komunikasi dan sinergi yang telah terbangun dapat terus ditingkatkan sehingga berbagai program pembinaan di Rutan Kelas I Bandung dapat diketahui masyarakat melalui pemberitaan yang aktual, faktual, dan bersumber dari informasi terpercaya.
“Semoga sinergitas ini terus terjalin dengan baik. Kami ingin masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai berbagai kegiatan pembinaan di Rutan. Pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar, berubah, dan kembali menjadi bagian positif dari masyarakat,” pungkasnya.
(Tim/Red)
Sumber: Presidium FPII
