JNewstv.com. Halmahera Barat — Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kota Jailolo kini berada di titik nadir. Alih-alih mendapatkan distribusi air yang lancar sebagai hak dasar, warga di sejumlah kawasan padat penduduk justru dipaksa “berburu” air di tengah malam layaknya pemulung genangan. Selasa (31/03/26)
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan krisis ini mencekik wilayah Desa Gufasa, Jalan Baru, hingga Hoku-hoku. Ironisnya, kondisi memprihatinkan ini telah berlangsung sejak bulan Ramadan lalu tanpa ada solusi nyata, apalagi permohonan maaf resmi dari pihak manajemen.
Ketajaman kritik warga memuncak pada absennya transparansi PDAM. Warga menilai PDAM sangat lalai karena tidak pernah mengeluarkan surat pemberitahuan atau peringatan dini terkait gangguan distribusi.
“Harusnya ada surat terbuka. Jangan biarkan kami menebak-nebak kapan air jalan. Kami bayar iuran tepat waktu, tapi pelayanan seperti barang gaib,” ujar salah satu warga Desa Hoku-hoku dengan nada geram.
Kemudian. Di Desa Jalan Baru, warga terpaksa merombak pola hidup demi air. Distribusi baru mengalir sekitar pukul 02.00 WIT, itu pun dengan tekanan yang sangat lemah atau tege-tege.
“Kami dipaksa begadang setiap malam hanya untuk menampung air yang alirannya lebih pelan dari air mata. Kami sudah mengadu ke petugas lapangan saat cek meteran, tapi jawaban mereka selalu klise tanpa ada perubahan,” keluh warga lainnya.
Dampak kelalaian ini juga merembet ke sektor usaha kecil yang berada di Desa Gufasa,pemilik warung makan yang harus menanggung beban ganda, membayar tagihan bulanan yang tetap menagih, sekaligus biaya tambahan untuk mencari air di desa tetangga akibat mati total selama berhari-hari.
“Kalau air mati total 3 hari, kami harus menumpang mandi di desa lain. Ini memalukan untuk kota sekelas Jailolo,” tegas seorang pemilik warung.
Ketimpangan Distribusi dan Lemahnya Pengawasan
Muncul dugaan kuat adanya ketidakadilan dalam pembagian debit air. Kawasan perkotaan yang padat penduduk seolah dianaktirikan, sementara pengawasan dari jajaran direksi PDAM dinilai mandul. Masyarakat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat untuk segera mengevaluasi total kinerja direksi PDAM.
Air bersih bukan sekadar komoditas dagang, melainkan kewajiban konstitusi yang gagal dipenuhi oleh PDAM Jailolo saat ini. Jika terus dibiarkan, krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah akan semakin sulit dibendung. (Aldy Ngofangare)
