
Turut hadir dalam pelepasan ekspor selaput biji pala yakni, Kepala Barantan, Ali Jamil bersama Asisten III Pemprov Malut Salmi Janidi, dan Kepala Kanwil Bea Cukai Maluku-Malut Finari, yang berlangsung di area Pelabuhan Ahmad Yani, Kota Ternate pada Jumat, (13/9/2019).
Dengan pertimbangan biaya dan transportasi ekspor selaput biji pala ( Myrisyica fragrans ) atau yang dikenal dengan nama fully masih melalui Surabaya.
Kepala Barantan, Ali Jamil ketika menyaksikan ekspor perdana tersebut mengapresiasi kinerja semua instansi, pasalnya selama ini ekspor komoditas potensial dari Ternate masih memiliki berbagai hambatan.
“Alhamdulillah, ini membuktikan kita bisa bapak ibu, meski upaya yang kita lakukan harus bersama-sama atau sinergi dan butuh tenaga ekstra,” tegasnya
Lanjut dia Sebelum diekspor, petugas karantina melakukan pemeriksaan dokumen dan fisik, untuk memastikan keamanan komoditas tersebut dari hama penyakit. Sesuai persyaratan negara tujuan, produk selaput biji pala tersebut juga diberikan perlakuan berupa fumigasi menggunakan metil bromida dosis 48 g/m3 selama 24 jam.
“Setelah kita pastikan semua aman, sehat tidak ada hama penyakit sesuai persyaratan sanitary dan phytosanitary dari negara tujuan barulah kita keluarkan sertifikat phytosanitarynya sebagai jaminan dari Indonesia,” ungkap Jamil.
Acara yang dipelopori oleh empat instansi sekaligus tersebut yaitu Bea dan Cukai Ternate, Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate, PT. Pelindo IV dan KSOP Kelas II Ternate juga menampilkan berbagai komoditas potensial ekspor dari Ternate.
Berbagai komoditas unggulan diatas masih dikirim secara lokal ke Surabaya, Bitung dan Manado untuk kemudian bisa diolah dan diekspor. Jumlah total pengiriman fully ke luar daerah pada 2018 sebanyak 214 ton, sedangkan komoditas lainnya berupa kopra sebesar 72,5 ribu ton, pala biji sebanyak 2,7 ribu ton, cengkeh sebesar 2 ribu ton dan kakao biji sebesar 969 ton.
Sebab Kandungan fully sendiri belum banyak yang meneliti. Dinegara tujuan, fully digunakan sebagai bahan baku pembuatan kosmetik dan obat-obatan.
Sementara itu, Plt Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Ternate drh. Ida Bagus Hary Soma Wijaya menyebutkan bahwa untuk mengatasi berbagai kendala seperti minimnya investor, keterbatasan infrastruktur dan tataniaga pertanian, pihaknya telah menjalin komunikasi dengan berbagai instansi terkait dan melakukan FGD secara rutin guna mengantisipasi hal tersebut.
Dari sisi layanan perkarantinaan, Ida bagus menjelaskan bahwa pemeriksaan karantina sudah melakukan sistem jemput bola atau proaktif dengan memeriksa komoditas tersebut saat ada di tempat pemilik, sehingga mengeliminasi hambatan lalulintas barang saat eksportasi. Selain itu pihaknya juga terus melakukan pembinaan yang terintegrasi melalui sistem in line inspection sehingga ekaportir dapat menghasilkan output produk yang sesuai persyaratan negara tujuan tanpa banyak reject atau ketidak sesuaian produk. (Hanna)