Home / Berita / Citizen Journalism / Catatan Tercecer RR ke-15, Sang Pecundang

Catatan Tercecer RR ke-15, Sang Pecundang

JNewstv.com | Jakart

Sosok kecilnya tidak meyakinkan dijuluki makhluk penguasa sejagat. Diplomasi pun sulit dilakukan dengan suaranya yang seringkali gagap. Apalagi melihat tampilan wajah tirus dengan perawakan mendekati kerangka dibalik jaket tebalnya. Hmmm, pokoke kurang meyakinkan!!!

Tetapiii banyak orang bertanya-tanya soal adanya pengawal bertubuh besar-besar dan kasar, yang selalu mengelilingi lelaki paruh baya itu. Jangankan materi berlimpah, rumah pun terbilang sederhana dan belum mumpuni disebut sebagai gedong apalagi istana.

“Oh, iya. Manto, coba telpon Luki suruh kemari. Saya mau omong sama dia.” Suara lembut Sang Pecundang itu memecah kesunyian pagi, meningkahi suara koor jengkerik dan tonggeret di samping rumahnya berbentuk joglo.

Manto pun segera menghubungi Luki, tanpa menunggu perintah lanjut. Bagi Manto, juga lainnya, perintah Sang Pecundang itu Sabda Pandito Ratu; menolak berarti membangkang berarti wajib dibina atau bahkan dibinasakan. Mereka takut dengan jaringan konspirasi kuat majikannya.

Namun begitu Sang Pecundang gundah gulana ketika berurusan dengan sosok lembut nan wibawa. Selalu kalah dalam berkonflik yang diciptakannya dengan taktik & strategi yang sudah dihitungnya amat sangat jitu. Musuh bebuyutannya itu acapkali berbuat tak terduga manakala diteror, diserang fisik, hingga siasat yang dianggap bakal mematikan lawan. Semua kandas.

Catatan gagal skenario Sang Pecundang pun bertambah panjang. Pernah dibuat perang terbuka ternyata keok walsu jumlah personil lawan cuma sepersepuluh, padahal saat itu dianggap habis-habisan.

Alhasil, “Ubah siasat. Cari kelemahan, tebar fitnah, hancurkan kekuatan batinnya yang selama ini menjadi kekuatan mereka. Pasok semua yang membuat terlena, mulai dari pengkhianatan & adu domba, kalau perlu rusak kepercayaan antar keluarga pendukungnya.”

Perintah Sang Pecundang itu pun dilaksanakan. Segenap matra & mitra dioptimalkan untuk menghancurkan Sang Penghalang demi terciptanya Tatanan Dunia Baru. Hanya ada dua golongan di lingkaran kekuasaannya yaitu Sang Pecundang & budak Sang Pecundang; tak peduli siapa atawa agama apapun.

Pelan tapi pasti, gerak langkah Sang Pecundang semakin membatasi kiprah Sang Penghalang. Ibarat binatang Rayap, kroni Sang Pecundang merusak bagian dalam kekuatan lawannya. Orang-orang yang disegani Sang Penghalang sudah menjadi hamba sahaya. Sang Pecundang juga telah mampu mengubah mindset pendukung menjadi sobat setia melawan mantan junjungan.

Tapi, apa lacur, Sang Pecundang tetap menjadi pecundang karena tidak bisa mengalahkan Sang Penghalang yang tegar beriman takwa kepada Sang Khalik, pemilik Asmaul Khusna sebagai tempat kembalinya semua makhluk ke alam keabadian. Wallahu’alam bisshowab.***RR

Penulis: Rinaldi Rais, wartawan Al-Faqir.

About Redaktur

Check Also

Andalalin PT Adhita Nikel Abaikan Saran Dishub Haltim Sudah Ingatkan Sejak 2025

HALTIM, JNewstv.com — Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), Maluku Utara, mengungkapkan bahwa PT Adhita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII