Home / Berita / Citizen Journalism / Hikmah Pandemi Covid-19 Sebagai Pembelajaran Umat Manusia

Hikmah Pandemi Covid-19 Sebagai Pembelajaran Umat Manusia

Oleh Rinovian Rais
Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah/IBM Bekasi

SEJAK pertama kali muncul pada Desember 2019 lalu di Wuhan, China, hingga sekarang, jumlah orang yang positif terjangkit Covid-19 di seluruh dunia sudah menembus angka 3 juta lebih. Sedangkan di Indonesia yang positif sudah menembus angka 26.940 per 2 Juni 2020.

Covid-19 pun mengubah langkah aktivitas kehidupan manusia secara radikal. Hampir semua aktivitas, bekerja, belajar, berdakwah, berdagang, bahkan berpolitik dilakukan secara daring atau virtual. Kini manusia dalam posisi yang sama. Jika ibadah puasa mampu menghadirkan spirit egalitarisme di kalangan umat Islam di seluruh dunia, di mana semuanya menjalankan perintah yang sama dari Allah SWT (tak peduli warna kulit ataupun derajat sosial seseorang), maka hal sama terjadi saat pandemi Covid-19 melanda.

Pandemi mematikan tersebut tidak pandang bulu, siapapun orangnya (kaya atau miskin, muda ataupun tua, dan sebagainya) bisa tertular Covid-19. Karenanya, ibadah puasa di tengah wabah Covid-19 me-restart diri manusia agar merenung dan mengingat kembali kekuasaan Allah SWT. Sehebat apapun manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan.

Empati berarti suatu keadaan di mana orang merasa dirinya berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Sementara pro-sosial merupakan tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan. Sebagai musibah kemanusiaan, wabah Covid-19 bukan saja persoalan kesehatan, namun punya ekses turunan berupa dampak ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya.

Hikmah Pandemi Covid 19 Sebagai Pembelajaran umat Manusia
Soal pelanggaran PSBB itu bukan karena orang Indonesia tidak disiplin tapi karena tidak jelasnya aturan. Orang dilarang ke mall tetapi mall buka, orang dilarang mudik tetapi kendaraan boleh lewat, bandara dibuka. Bila pemerintah terkesan kendor dan membingungkan maka dengan sendirinya warganegara pun ikutan kendor dan bingung.
Dibalik setiap musibah pasti ada hikmah yang bisa diambil. Ada beberapa hikmah yang bisa dipetik dari musibah Covid-19.

Pertama, Allah menegur dan mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika pendemi Covid-19 muncul dan menyebar ke mana-mana banyak orang yang tidak berdaya. Mereka akhirnya terinfeksi dan banyak pula yang kehilangan nyawa. Manusia bukanlah makhluk yang super kuat tetapi Allah-lah Zat Yang Maha Kuat. Kita tidak berdaya ketika Allah menurunkan penyakit yang bernama Covid-19. Maka berserah dirilah hanya kepada Allah semata diiringi ikhtiar dan doa.

Kedua, musibah Covid-19 menyadarkan (kembali) kepada kita akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lingkungan. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan soal kebersihan, baik jasmani maupun rohani. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS.Al-Baqarah:222). Anjuran untuk selalu mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer di tengah merebaknya wabah Covid-19 sejalan dengan ajaran Islam tentang memelihara kebersihan dan kesucian seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kebiasaan menjaga wudhu juga salah satu cara untuk mencegah terkena Covid-19 karena orang yang berwudhu secara otomatis juga membersihkan anggota tubuh dan kulitnya. Walaupun memang tidak ada jaminan kalau berwudhu pasti tidak terkena virus tetapi minimal ada upaya untuk melindungi diri dari ancaman virus tersebut selain mencuci tangan dan social distancing.

Ketiga, meningkatnya solidaritas sosial di kalangan masyarakat. Pandemi Covid-19 yang menimbulkan banyak korban yang langsung maupun tidak langsung menyita perhatian masyarakat. Warga masyarakat pun bersimpati dan bahu-membahu membantu mereka yang terdampak virus ini. Sebagian warga membagikan masker dan hand sanitizer kepada warga yang kurang mampu. Sebagian yang lain menyumbang dana dan APD (Alat Pelindung Diri) untuk rumah sakit dan tenaga medis yang sangat membutukan. Ada juga yang menyumbang konsumsi untuk tenaga medis, driver ojol dan taksi yang terkena imbas dari aturan work from home (WFH) bagi pegawai di wilayah Jabodetabek.

Semangat berbagi dan tolong-menolong seperti di atas yang mesti ditumbuhkembangkan di masyarakat dalam setiap keadaan, tidak hanya ketika terjadi musibah. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa (QS Al-Maidah: 2). Hal ini juga sejalan dengan sila kedua Pancasila yaitu Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Jika pandemi Covid-19 segera berlalu tanpa menyisakan luka yang mendalam, maka kehidupan masyarakat bisa kembali normal sebagai pembelajaran kita semua dan Insyaa Allah bisa menjadi hamba yang selalu bersabar menghadapi musibah dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. (red)

About Redaktur

Check Also

Wakapolda Maluku Utara Hadiri Upacara dan Syukuran HUT ke-81 TNI di Korem 152 Babullah

JNewstv.com Ternate — Wujud sinergitas dan soliditas antara TNI dan Polri kembali terlihat hangat di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII