Catatan Tercecer RR ke-23,
JNewstv.com | Jakarta Uang, uang & uang, menjadi obsesi pemukim fakir miskin dhuafa. Alat tukar kebutuhan konvensional itu dikejar tanpa lelah siang malam. Terkadang hinaan, cacian, bahkan pandangan mata mengejek, tak dipedulikan semata keyakinan duit menjadi solusi kehidupan fana. Tapi apa lacur, Sang Nasib Mujur belum berpihak hingga beranak Pinak. Tuhan pun disesali.
Nasib serupa dialami pemukim elite tajir. Jabatan, jabatan & jabatan, menjadi obsesi pelengkap kebahagiaan fana. Sikut teman, rampas hak lawan yang lemah, jilat wewenang lawan yang kuat sambil menunggu bisa digantikan. Tapi apa lacur, Sang Dewa Kebahagiaan belum berpihak hingga beranak Pinak. Tuhan pun disepelekan.
Kesamaan si-miskin & si-tajir membuat Auguste Rodin menjadi si-patung pemikir, 1840-1917. Kegagalan studi bakat seninya menemukan jalur Ordo Biarawan. Suasana relijius biara itupula yang mengantarkan ketenaran pematung Perancis itu.
Namun Rodin, biarawan pematung, tetap tidak bisa menemukan Jalan Tuhan. Hingga embusan nafas terakhirnya, dia tidak mampu menyelesaikan proyek kondang “The Gates of Hell” alias Gerbang Neraka. Tuhan pun tidak ditemukannya.
Tetiba, mereka langsung sujud terpana sesaat suara serak nge-bas, menggelegar sambil berkata: Aku lah Tuhan-mu. Di masanya, semua tunduk patuh pada aturan dibuat. Kuasa Namruz, Tangan Besi Firaun, dan harta Qorun, membuat silau para penghamba duniawi.
Sumpah jabatan negeri atas nama Tuhan pun dikalahkan silau harta & tahta. Hepeng Mangatur Negaraon, kata Orang Batak. Sang penguasa pun mencucuk hidung kerbau-kerbau pemuas perut, yang lupa bekal masa depan dunia milik generasi penerus. Juga mengesampingkan kebenaran teori Thomas Hobbes, Homo Homini Lupus; Manusia itu Serigala bagi manusia lain.
Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin alias Keberkahan Bagi Seluruh Alam, sebagai benteng terakhir agama samawi, pun dijadikan Musuh Bersama. Mulai dibuat tandingan dengan aliran-aliran nyeleneh, umat dirayu dengan maksiat dunia, hingga genosida melalui kawin campur dan hak-hak asasi manusia yang digembar-gemborkan dilanggar demi hancurkan muslim.
Alhasil, kesombongan para penganut paham filsafat materialisme-nya Ludwig Feuebach itu menganggap realitas berseberangan dengan idealisme. Katanya, pelaku-pelaku immaterial tidak ada atau bahasa ekstrimnya: Tidak ada Tuhan atau Dunia Adikodrati. Naudzubillah.
Pastinya, satu persatu dari mereka tidak mampu menjawab ketika Taqdir Tuhan menghadirkan ketuaan yang melemah, mandul, pikun, hingga kematian berbagai cara. Jepang kini kesulitan memperbanyak generasi penerus, Amerika Serikat tak kuasa melawan dominasi Cina yang disepelekan, juga tak ada yang mampu menghentikan keganasan angin & air pasukan Sang Khalik. Wallahu’alam Bisshowab. RR (red))
Penulis : Rinaldi Rais, Wartawan Al-Faqir.
JNewstv.com Berita Fakta & Realita