
JNewstv.com | Maluku Utara – Fajar Tahun 2020 menjelang tiba, bagi masyarakat Kota Tidore kepulauan tahun 2020 terasa begitu istimewa dan ditunggu kedatangannya terutama karena akan ada satu peristiwa penting pesta demokrasi pergantian pimpinan Daerah atau Walikota dan Wakil Walikota Tikep periode 2020 – 2024 yang akan dilaksanakan pada bulan September 2020. Walaupun masih cukup panjang waktu pelaksanaan pesta demokrasi tersebut tetapi saat ini suasana riuh dan tensi persaingan sudah mulai terasa, kuda kuda mulai dipasang strategi jegal menjegal pun sedang dipertontonkan.
Petahana bertekad dua Jilid lalu dengan segala tingkah pola permainan politik yang justru terlihat lucu dan menggemaskan bahkan kadang terlihat begitu bersemangat sehingga tanpa sadar melanggar rambu rambu etika berpemerintahan yang oleh para pakar disebut abuse of power karena power sindrom dengan strategi utama melawan kotak kosong atau dengan kata lain menang Wo tanpa perlu berkeringat. sementara pihak penantang yang terdiri atas partai partai koalisi atau Kaukus punya satu tekad untuk melahirkan sosok kepemimpinan baru karena kepemimpinan Petahana dalam berbagai diskusi berdasarkan paparan fakta dan analisa telah dianggap “gagal” memimpin Tikep terlebih lagi dengan gaya mengelola kepemimpinan kepemerintahan yang telah terlalu jauh keluar dari rel Kepemimpinan Loa se Banari sebagai falsafah serta ciri dan asal usul gaya kepemimpinan Daerah berbasis Kesultanan ini. Yang lucu daripada Kaukus diatas adalah problem perbedaan cara pandang dan dasar fikir yang ada dikepala beberapa Ketua partai dalam hal perekrutan calon adalah “Pao – Pao” bukan Kriteria Pemimpin, akibatnya waktu dan energy habis untuk berdiskusi, dampaknya para bakal calon yang punya ambisi pada kekuasaan saja, mulai jalan sendiri sendiri dan itu artinya sia – sia lah tujuan.
Untuk itulah tulisan ini disajikan sebagai kado Tahun Baru 2020 dengan sodoran konsep berfikir yang sehat dan terarah. Problem utama dan mendasar Tikep bila diamati secara rasional objektif adalah Problem “kepemimpinan” yang buruk yang berdampak negative pada sistim pengelolaan pemerintahan, merugikan sekaligus menyakiti perasaan masyarakat dan secara fundamental merusak sendi sendi kehidupan beradat dan berbudaya manusia Tidore yang telah terbina selama ratusan tahun, dimana kita semua tahu dan meyakini Adat dan Kebudayaan dalam Kepemimpinan Jokowi dipandang sebagai Unsur Ketahanan fundamental Bangsa Negara Indonesia. Maka solusi daripada problematika Kepimpinan diatas adalah “A Holy Mission” yang walaupun berat dan sulit tetap harus dijalani bila kita masih punya sedikit “rasa” cinta dan tanggung jawab terhadap generasi kedepan maka kesadaran dan pengorbanan dibutuhkan, tanggungjawab bersama kita adalah melahirkan Pemimpin Pemerintahan yang baru periode 2020-2024.
Dalam benak penulis bukan sekedar memenangkan kompetisi saja tetapi bagaimana mengelola amanah Kepemimpinan itu dalam koridor Toma Loa se Banari agar Tikep menjadi lebih baik serta siap menghadapi tantangan persaingan ekonomi dunia kedepan. Untuk dapat mengemban “A Holy Mission” diatas dibutuhkan sosok calon memiliki Kriteria jujur, amanah, santun, berani menyatakan benar itu benar dan salah itu salah, memiliki wawasan yang memadai dan paling penting faham dan menghayati akan nilai-nilai kepemimpinan Loa se Banari . karena seharusnya, Nilai-nilai Luhur pribadi calon Pemimpinlah yang menjadi prioritas para Ketua Partai dalam menentukan pilihan bukan pada popularitas semu apalagi uang, itu keliru, penulis ingin bilang bahwa uang itu penting tapi tidak pernah menentukan kemenangan sekian banyak fakta proses pemilihan membuktikan itu dan penulis yakini bahwa masyarakarat Tikep yang selama ini resah dan telah sangat kecewa dengan ulah Oknum Pemimpin lama tidak akan memilih karena uang tapi karena rasa tanggungjawab dan cinta Negeri.
Kembali kepada Kriteria, penulis yakini bahwa kita semua di Tikep ini saling kenal dan minimal mengetahui satu sama lain bahkan detil sehingga sulit sekali menyembunyikan plus minus seseorang, oleh karena itu diantara semua bakal calon yang mengemuka penulis pikir kita semua sepakat bahwa Sosok MOCH EL BAHAR KONORAS adalah figure calon yang tepat dan pantas memikul amanah “A Holy Mission” . kejujuran dan Kecerdasannya , komitmen dan konsistensinya teruji selama setahun menjadi anggota DPRD Tikep periode lalu telah mampu mengoptimalkan fungsi-fungsi DPRD TIKEP, Pengalamannya sebagai orang kepercayaan Lukas Enembe sebagai wakil bupati, bupati dua Periode dan Gubernur Papua dua Periode telah lebih dari cukup dimana pada saat itu beliau termasuk anggota perangcang otsus Papua, pengendali proyek IT Palapa Ring Timur Papua dan Karena kemampuannya beliau diangkat menjadi anggota dewan IT nasional dan terakhir kemarin tanggal 26 s/d. 29 Nopember 2019 dikirim oleh Pemerintah Indonesia ke Korea Terkait dengan Program Jokowi Five O berbasis fiber Optik. Maka kenapa kita ragu. Dan tidaklah berlebihan bila Penulis menyatakan MOCH EL BAHAR KONORAS siap lahir batin membawa mewakafkan dirinya demi Tikep yang lebih baik kedepan. Apalagi kalau Cuma uang. Keciiil.
Sumber : Presidium Fomakati
JNewstv.com Berita Fakta & Realita