
JNewstv.com | Jakarta – Ekonom ,Faisal Basri menilai kebijakan pemerintah untuk memudahkan mengimpor besi baja di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur membuat pabrik baja lokal ambruk.
Pasalnya tercatat tujuh (7) pabrik baja lokal stop produksi sebagai satu penyebab defisit perdagangan nasional sebesar USD 3,20 miliar setara Rp 44,8 trilyun sepanjang 2019.(29/01/2020) Faisal Basri mengatakan ketentuan impor baja yang menghapuskan syarat rekomendasi impor dari Kementerian Perindustrian, juga memindahkan pengawasan besi baja keluar kepabeanan (post border) oleh Kementerian Perdagangan memunculkan masalah level of playing field bagi produsen baja domestik.
“Ibarat jalan tol bagi impor besi baja yang memuluskan arus masuk termasuk berkualitas rendah, seperti diungkap dalam tulisan saya (red -Faisal) berjudul Neraca Perdagangan Cetak Rekor Terburuk & Benalu di Lingkungan Dekat Presiden,” paparnya.
Badan Pusat Statistik mencatat lonjakan impor baja di Indonesia dalam tren meningkat setiap tahun. Pada 2015 impor baja masih 5,2 juta ton, lalu pada 2019 menembus 6,9 juta ton dimana 90% berasal dari 5 negara utama yaitu Cina, Taiwan, Vietnam, Korea, dan Jepang. Sepanjang 2019 defisit neraca perdagangan USD 3,20 miliar setara Rp 44,8 trilyun dengan kurs kisaran Rp 14 ribu/dolar AS.
Sepanjang 2019, Dirjen Perlindungan Konsumen & Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Veri Anggrijono, bahkan telah memusnahkan barang impor ilegal termasuk besi baja senilai Rp 15 milyar yang menyelundup masuk dari pengawasan barang impor di luar pabean (postborder) sejak Februari 2018. Hal senada di jelaskan oleh Ketum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesia Iron & Steel Industry Association/IISIA),Silmy Karim yang mencatat setidaknya ada tujuh (7) produsen baja dari 218 anggota IISIA di dalam negeri yang menyetop produksi atau memangkas produksi.
“Diantaranya Sarana Central menghentikan lini produksi zinc steel; Bluescope menurunkan produksi zinc alumunium plywood sampai 50%; Tata Metal Lestari, Essar, & satu pabrik lain menurunkan produksi zinc steel 40-50%,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa ada Satu produsen menghentikan beberapa lini produksi wire rod, juga Krakatau Steel menghentikan lini produksi ini pada akhir 2018 disamping menurunkan produksi section and bar mill sampai 50%. Baja impor yang masuk pasar berjenis HRC, CRC, WR Carbon, Bar Carbon, Bar Alloy, Section Carbon, Carbon Steel, Alloy Steel dan lainnya kendati jenis HRC dan plat dalam posisi kelebihan pasokan. “Solusinya, utilisasi baja harus ditingkatkan tentunya dengan permintaan ditambah, caranya keran impor harus ditutup.
Langkah ini diambil mengingat permintaan baja dalam negeri terus bertambah,” terang Silmy Karim yang juga Dirut Krakatau Steel.(Harun/fudin)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita