JNewstv | Labuha – Sejak tahun 2019, PT Wanatiara Persada (WP) telah mengembangkan program pengelolaan dan pemasaran mandiri yang dikelola oleh Kelompok Tani binaan Yusran Dais.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal guna memenuhi tingginya permintaan pasar, baik di tingkat lokal maupun industri.
Menurut Yusran Dais, mayoritas masyarakat di Halmahera Selatan masih bersifat konsumtif.
Kondisi ini terlihat dari tingginya aktivitas impor hasil pertanian dari luar daerah.
“Di Pelabuhan Kupal saja, setiap bulan ada sekitar 30 kapal yang datang membawa hasil pertanian dari luar. Begitu juga di Pelabuhan Babang, di mana sebagian besar kebutuhan pasar masih didatangkan dari luar,” ujarnya, Rabu (12/02/25).
Ia juga menambahkan bahwa permintaan pasar di Maluku Utara terhadap daerah lain bisa mencapai 70%, terutama saat cuaca buruk yang menghambat distribusi hasil pertanian.
Pemberdayaan Petani Lokal
Melihat kondisi ini, PT WP berupaya memberdayakan petani lokal agar lebih mandiri.
“Fokus kami adalah membina para petani lokal supaya bisa mandiri, baik dalam pengelolaan maupun pemasaran hasil pertaniannya,” ungkap Yusran.
Untuk mendukung produksi para petani, PT Wanatiara telah membangun fasilitas laboratorium guna mengembangkan berbagai produk dari hasil produksi para petani, seperti madu sari kangkung, madu sari kurma, dan madu klorofil.
Produk-produk tersebut kini sudah dapat diproduksi secara mandiri.
“Kami berharap dampak dari upaya ini dapat dirasakan secara menyeluruh oleh masyarakat,” tambahnya.
Tantangan dan Solusi
Yusran menganggap bahwa Masyarakat Maluku Utara menilai profesi petani dipandang sebagai solusi terakhir, padahal kebutuhan pasar sangat besar.
Untuk memenuhi ketersediaan tersebut, keberadaan petani sangat diperlukan.
“Dari binaan saya yang berjumlah total 135 orang, sudah ada 17 petani yang berhasil mandiri. Mekanisme pemilihan petani mandiri ini kami lakukan dengan cara mengelompokkan mereka menjadi 15 orang dalam satu lahan. Dari kelompok tersebut, kami melihat siapa yang sudah mampu mengelola secara mandiri, lalu mereka dipisahkan untuk menjalankan usaha sendiri,” jelas Yusran.
Rata-rata petani di wilayah Obi, khususnya di Desa Laiwui, Desa Baru, serta seputaran wilayah kecamatan, sudah merasakan dampak yang kami lakukan.
Terkait Kendala yang dihadapi para petani binaan adalah lahan yang berada dalam wilayah perusahaan.
Oleh karena itu, untuk mengembangkan para petani, seharusnya pemerintah maupun pihak perusahaan menyediakan lahan pertanian bagi petani di wilayah operasi pertambangan yang ada.
Melalui program ini, Wanatiara Persada berupaya mengurangi ketergantungan masyarakat Halmahera Selatan terhadap produk-produk pertanian dari luar daerah.
(Ifan)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita