
Oleh : Dr Rinovian Rais MM
Dosen Manajemen Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi
REVOLUSI Indonesia 4.0 pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Awal mula dari istilah ini adalah terjadinya revolusi industri di seluruh dunia, yang mana merupakan sebuah revolusi industri keempat. Dapat dikatakan sebagai sebuah revolusi, karena perubahan yang terjadi memberikan efek besar kepada ekosistem dunia dan tata cara kehidupan. Revolusi industri 4.0 bahkan diyakini dapat meningkatkan perekonomian dan kualitas kehidupan secara signifikan.
Saat ini kita berada di zaman dimana Revolusi Industri 4.0 baru saja dimulai. Lalu seperti apa sebenarnya Revolusi Industri 4.0? Revolusi Industri 4.0 menerapkan konsep automatisasi yang dilakukan oleh mesin tanpa memerlukan tenaga manusia dalam pengaplikasiannya. Dimana hal tersebut merupakan hal vital yang dibutuhkan para pelaku industri demi efisiensi waktu, tenaga kerja, dan biaya. Penerapan Revolusi Industri 4.0 di pabrik-pabrik saat ini juga dikenal dengan istilah Smart Factory. Tidak hanya itu, saat ini pengambilan ataupun pertukaran data juga dapat dilakukan on time saat dibutuhkan, melalui jaringan internet.
Sehingga proses produksi dan pembukuan yang berjalan di pabrik dapat termotorisasi oleh pihak yang berkepentingan kapan saja dan dimana saja selama terhubung dengan internet. Bila kita melihat kembali Revolusi Industri 3.0 dimana merupakan titik awal dari era digital revolution, yang memadukan inovasi di bidang Elektronik dan Teknologi Informasi. Ada perdebatan apakah Revolusi Industri 4.0 cocok disebut sebagai sebuah revolusi industri atau hanya sebuah perluasan atau pengembangan dari Revolusi Industri 3.0.
Namun nyatanya, perkembangan Revolusi Industri 3.0 ke Revolusi Industri 4.0 sangat signifikan, hal baru yang sebelumnya tidak pernah ada di era Revolusi Industri 3.0 mulai ditemukan. Para ahli meyakini era ini merupkana era dari Revolusi Industri 4.0, dikarenakan terdapat banyak inovasi baru di Industri 4.0, diantaranya Internet of Things (IoT), Big Data, percetakan 3D, Artifical Intelligence (AI), kendaraan tanpa pengemudi, rekayasa genetika, robot dan mesin pintar. Salah satu hal terbesar didalam Revolusi Industri 4.0 adalah Internet of Things.
Meskipun jumlah kasus pandemi Covid-19 belum mengalami penurunan dan melihat kegiatan ekonomi yang sudah lama terhenti, pemerintah akhirnya menggaungkan wacana skenario new normal. Skenario ini menitikberatkan pada perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 atau bisa dikatakan beradaptasi dengan Covid-19. Pemerintah berharap adanya skenario new normal dapat membuat masyarakat tetap produktif di tengah keniscayaan risiko wabah corona dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa sektor akan dibuka kembali seperti sektor pendidikan, khususnya perguruan tinggi.
Nasib Dosen Di Era Kenormalan Baru
Pandemi Covid-19 berdampak pada beberapa hal, mulai dari proses pengajaran dan pembelajaran, dosen, hingga kondisi finansial perguruan tinggi. Pada skenario pesimistis, pembelajaran online akan dilakukan hingga 2021. Sebagian besar mahasiswa akan menyelesaikan perkuliahan semester ini secara daring dan kelulusan akan dilakukan secara virtual (tanpa seremonial formal).
Kemudian, pergeseran signifikan terjadi pada pembelajaran online yang tentunya menjadi tantangan besar perguruan tinggi. Standar pembelajaran online yang layak perlu dikembangkan perguruan tinggi agar mampu memfasilitasi consumer needs, dalam hal ini mahasiswa. Selain itu, dosen yang tidak siap dengan pembelajaran ini dituntut memberikan effort lebih untuk melek teknologi dan menjadi kreator konten edukasi yang kreatif.
Hal ini tentunya memakan waktu yang awalnya dialokasikan untuk penelitian, Webinar dalam rangka peningkatan scholarly productivity perguruan tinggi. Dalam hal finansial sebagian besar pemasukan PTS berasal dari dana mahasiswa. Keterlambatan pembayaran ini disebabkan kesulitan finansial sebagian besar orangtua mahasiswa di tengah pandemi.
Untuk menjawab tantangan di tengah pandemi dan mempersiapkan skenario new normal perguruan tinggi, beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi meliputi; pertama, membentuk task force team sebagai nerve center. Pembentukan tim kerja yang fokus pada tanggung jawab bidang tertentu dapat membantu pemimpin institusi pendidikan untuk melakukan perencanaan dan pengelolaan respons terhadap Covid-19. Tanggung jawab tim kerja tersebut meliputi empat bagian.
Pertama, melakukan analisis kondisi kampus pada umumnya dan online learning pada khususnya.
Kedua, fokus pada apa yang urgent untuk dilakukan, perlu diputuskan apa yang harus dilakukan dengan cepat guna merespons consumer needs.
Ketiga, fokus untuk mendesain portofolio actions (baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan pragmatic operating model guna memperjelas rencana dan tindakan aksi tersebut.
Keempat, menyampaikan rencana dan merespons tanggapan secara fleksibel dan efisien. Dalam rangka meningkatkan efektifitas pembentukan tim kerja ini, perlu dilakukan tracing apa yang sedang dilakukan tim, kapan, dan oleh siapa.
Pertemuan antar anggota tim dilakukan secara intensif dan se-efisien mungkin guna merespons dan menjawab tantangan yang ada di lapangan.
Memperhatikan kebutuhan mahasiswa, dosen, dan ketahanan finansial. Universitas perlu memperhatikan kebutuhan yang diperlukan oleh mahasiswa seperti melakukan optimalisasi standar pendidikan berbasis online. Mahasiswa membutuhkan pengalaman belajar secara online yang menarik, sehingga universitas perlu menyediakan konten edukasi yang mampu meningkatkan minat dan kuriositas mata kuliah yang diambil.
Selain itu, dosen perlu didukung untuk dapat melanjutkan penelitian, dan webinar karena scholarly productivity mencerminkan kinerja universitas yang mana memiliki pembobotan tinggi dalam pemeringkatan perguruan tinggi tingkat dunia, yakni Times Higher Education dan Quacquarelli Symonds Rank. Selain penelitian, dosen perlu diberikan dukungan agar mampu melakukan pengajaran online secara efektif dan bahkan jika dimungkinkan diadakan pelatihan untuk menjadi kreator konten edukasi. Universitas perlu melihat bagaimana kondisi finansial institusi di tengah sistem pembelajaran yang serba online. Dengan adanya ketidakpastian yang berkelanjutan di tengah wabah Covid, universitas perlu melakukan berbagai skenario untuk mendorong ketahanan finansial.
Skenario tersebut perlu melihat core competence dari universitas tersebut misalnya dengan mendirikan online courses berbayar yang fee-nya dapat menjadi pemasukan universitas, atau bisa juga dengan mendirikan sebuah bisnis konsultasi yang bekerja sama dengan industri. Fokus pada pendaftaran mahasiswa baru dan proses pengajaran tahun akademik selanjutnya. Melihat waktu pendaftaran mahasiswa baru semakin dekat, institusi pendidikan perlu melakukan perencanaan pada tahun ajaran berikutnya dengan mendirikan command center untuk mengelola aktivitas mahasiswa dan khususnya sebagai pusat informasi bagi mahasiswa yang berpotensi tidak mendaftar seperti mahasiswa internasional dan lower-income students.
Command center diharapkan mampu menjadi garda terdepan informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa. Selain optimalisasi pusat informasi, perguruan tinggi juga harus dapat menjawab tantangan bagaimana agar mampu memberikan perubahan signifikan pada model pengajaran saat ini menjadi pengajaran yang lebih fleksibel, terukur, berbiaya rendah, dan yang terpenting adalah yang menarik Agar dapat menjawab berbagai macam tantangan dalam pandemi ini, pemimpin universitas perlu memetakan potensi kerusakan dan mencari alternatif solusi dengan beragam skenario untuk memecahkan masalah tersebut.
Perencanaan baik jangka pendek maupun jangka panjang diperlukan agar universitas tetap menunjukkan produktifitas di tengah wabah ini dan mampu mengakomodasi consumer needs. Dengan demikian diharapkan perguruan tinggi mampu menghadirkan skenario new normal yang efektif guna menunjang produktivitas sektor pendidikan.
JNewstv.com Berita Fakta & Realita