Catatan Tercecer RR ke-46
JNewstv.Com | JAKARTA
Keberanian Surya Paloh selaku ketua umum Partai Nasional Demokrat mengumumkan bakal calon presidennya 2024, ditengah politik transaksional partai politik lain, yang mungkin saja masih berdebar-debar menunggu iming-iming gembira tawaran Istana masuk internal kekuasaan kelak.
Blarrr, porak poranda lah semua yang sudah dirancang waktu sebelumnya. Mulai kekacauan di antara koalisi Indonesia Bersatu (PPP, PAN, Golkar). Ketum PPP, Soeharso Monoarfa, yang digantikan Mardiono, hingga kemunculan tokoh-tokoh senior Partai Golkar, Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla, yang terpikat kinerja Gubernur Anies Rasyids Baswedan, hingga bergabungnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat-nya besutan Susilo Bambang Yudhoyono, untuk melengkapi Presidential Threshold (PT) 20% dukung Anies maju Capres 2024-2029.
Ambyar itu lantaran reputasi Anies Baswedan selama gubernur DKI Jakarta periode 2017-16 Oktober 2022 itu bergeming tatkala coba dijegal berbagai cara mulai langgam cuitan buzzer melalui media sosial hingga langgam hukum terkait Formula E dimana ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Firli Bahuri, ngotot mentersangkakan Anies; kendati Badan Pemeriksa Keuangan berpendapat Tiada kerugian negara kecuali administrasi, juga pendapat ahli pidana yang dimintakan KPK, Prof Romii Atmasasmita SH MH dari Universitas Padjadjaran.
Artinya, sejumlah rencana menjegal Anies buyar walaupun disadari cucu pahlawan kemerdekaan, AR Baswedan, itu didukung suara rakyat sebagai Suara Tuhan yang dalam istilah hukum dikenal Vox Populi Vox Dei, yang sukses diejawantahkan oleh ketum Partai Nasdem, Surya Paloh, kendati bukan berbasis keagamaan tetapi sangat nasionalis.
Penulis menilai, Surya Paloh apik mengemas politik transaksional nya dengan mengedepankan norma kebangsaan bernegara walau tidak menafikan norma pembesaran partai besutan nya di tengah mengelola media massa dan usaha bisnis lainnya.
Perfeksionis, yang mampu memenej waktu dan peluang setiap upaya yang dikelolanya.
Pelan tapi pasti, Anies Baswedan berjalan istiqomah dengan segala performa santun, cerdas dan berakhlak sewaktu mengelola Daerah Khusus Ibukota yang diapit domisili Istana Negara pimpinan Presiden Jokowi, pesaing pendukung sewaktu Pilkada DKI 2017; Anies yang non-partai berpasangan dengan Sandiaga Uno selaku kader partai Gerindra sedangkan lawannya saat itu PDI-P yang belakangan begabung dalam koalisi pemerintahan bernama koalisi Indonesia Maju lalu berubah koalisi Indonesia Hebat sepanjang Presiden Jokowi periode 2014-2024.
“Alhamdulillah kami pun Istiqomah bergabung dalam negeri simpul relawan Anies demi perubahan agar rakyat sejahtera di bawah kepemimpinan pa’Anies, yang nyata saat memimpin gubernur DKI Jakarta, In sya Allah,” ujar Rully Armeyn, sekjen Forum Kedaulatan untuk Anies, (ForkanisLintang IISIP Jakarta) kepada media, Minggu (9/10).
Politik identitas yang disematkan ke barisan Anies Baswedan sebagai Qodarullah justru mempertebal pendukungnya Istiqomah memilih partai politik pendukung Sang Maestro perubahan. Simpul-simpul relawan terus menambah panjang daftar rakyat pendukung termasuk kolaborasi para ulama yang selama ini didzolimi dengan jargon-jargon diskriminatif. Mulai Habib Rizieq Shihab, Habib Bahar Smith, hingga Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, hingga Ustadz Yahya Waloni, yang sebagian telah mengenyam penjara melalui aneka laporan di luar nalar hukum.
Namun begitu, benar kata wong-wong tuwo: Gusti Allah mboten sare diterjemahkan Allah tidak tidur dimaknai adanya waktu pembalasan bagi pendzolim dengan cara Sang Khalik. Semisal kasus pembunuhan Brigadir Joshua di rumah dundungannya Kadiv Propam, Irjen Ferdi Sambo justru konon membuka tabir kasus kematian ke-6 Syuhada remaja anggota Front Pembela Islam di jalan tol Jagorawi KM-50; sampai-sampai Kapolri Jenderal Listiyo Sigit Prabowo siap menyidik ulang kasus KM-50 asalkan ada temuan fakta baru dan spontan direspon advokat Ahmad Khozinudin dengan mendatangi Mabes Polri, baru-baru ini.
Di sinilah akhirnya masyarakat relijius Nusantara meyakini bahwa Sila ke-1 Pancasila membuktikan kesaktiannya bahwa hidup tak bisa dilepaskan dalam keyakinan beragama atau sebaliknya agama tidak bisa dipisahkan dalam hidup keseharian bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga pertahanan dan keamanan disingkat Ipoleksosbud Hankam. Wallahu ‘Alam Bisshowab. ( RR, Oktober 2022)
Penulis: Rinaldi Rais, Wartawan Al-Faqir
JNewstv.com Berita Fakta & Realita