TIDORE KEPULAUAN, JNewstv.com — Pernikahan bukan sekadar seremoni menyatukan dua insan dalam satu ikatan rumah tangga. Lebih dari itu, pernikahan menjadi awal perjalanan panjang untuk membangun kehidupan bersama, sekaligus mempertemukan dua keluarga besar dalam satu ikatan persaudaraan.
Nuansa penuh haru, bahagia dan kekeluargaan mewarnai momentum pernikahan Rifaldi Yansah, yang akrab disapa Adi, dengan sang permaisuri Boki Nursafaat Ramadani, yang juga akrab disapa Oki, dengan pernikahan yang dilangsungkan, Minggu 2 Agustus 2026 Soasio Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
Prosesi sakral tersebut menjadi momentum terindah bagi kedua mempelai sekaligus menandai berakhirnya masa lajang dan dimulainya babak baru kehidupan sebagai pasangan suami istri.

Agenda poses Korodun atau Ngunduh Mantu dilangsungkan Sabtu, 08 Agustus 2026 Dengan penuh rasa syukur, kedua mempelai didampingi keluarga besar masing-masing. Keluarga besar Waleh, Halmahera Tengah, dan keluarga besar Tidore Kepulauan hadir bersama sebagai bentuk dukungan sekaligus simbol terbentuknya hubungan kekeluargaan yang lebih luas.
Bagi keluarga, pernikahan tersebut bukan hanya tentang menyatukan Rifaldi dan Nursafaat, tetapi juga menyambung tali silaturahmi antara dua keluarga besar yang memiliki latar belakang budaya dan tradisi adat kesultanan Tidore yang saling menghormati.
Tokoh Pemuda Waleh yang juga mewakili kedua mempelai dan keluarga besar, Irwan Hi Amir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pernikahan merupakan awal perjalanan kehidupan yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, kasih sayang dan saling menghargai.
“Hari ini bukan akhir dari sebuah cerita cinta, tetapi menjadi awal perjalanan panjang bagi kedua mempelai untuk membangun rumah tangga. Semoga ikatan ini menjadi keluarga yang penuh kasih sayang, saling menghormati dan selalu diberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan,” ujar Irwan.
Menurutnya, kebahagiaan kedua mempelai juga menjadi kebahagiaan bagi seluruh keluarga yang hadir. Sebab, sejak hari tersebut, hubungan kekeluargaan antara Waleh dan Tidore Kepulauan semakin erat.
“Kita semua hadir bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari keluarga. Semoga hubungan yang terbangun melalui pernikahan ini terus terjaga dan menjadi jembatan silaturahmi bagi kedua keluarga hingga generasi berikutnya,” katanya.
Tradisi Adat Jadi Simbol Penyatuan Keluarga, Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sesi penyambutan tamu dari keluarga besar pihak perempuan. Suasana semakin hangat ketika tradisi adat Halmahera Tengah, Fasebeo Milove, turut dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian penyambutan keluarga.
Tradisi tersebut menjadi salah satu simbol penghormatan terhadap keluarga sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam momentum pernikahan.
Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Para tamu dan keluarga dari kedua belah pihak terlihat berbaur, berbincang dan menikmati hidangan bersama.
Kehadiran para tokoh daerah dan organisasi kemasyarakatan turut memberikan warna tersendiri dalam acara tersebut.
Di antaranya Wakil Ketua I DPRD Halmahera Tengah Munadi Kilkoda, Anggota DPRD Halmahera Tengah Helmi Kasim, Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Maluku Utara Junaedi Abdul Rasyid sekaligus Ketua FPII Halmahera Tengah Ilham Husen, serta keluarga dan kerabat kedua mempelai.
Munadi Kilkoda: Pernikahan Adalah Awal Membangun Keluarga. Wakil Ketua I DPRD Halmahera Tengah, Munadi Kilkoda, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Ia berharap pasangan Rifaldi dan Nursafaat dapat membangun rumah tangga yang harmonis, saling menguatkan dan menjadikan keluarga sebagai tempat terbaik untuk tumbuh bersama.
“Pernikahan ini adalah awal dari perjalanan panjang. Yang terpenting bukan hanya bagaimana memulai kehidupan berumah tangga, tetapi bagaimana mempertahankan cinta, saling menghormati dan menyelesaikan setiap persoalan dengan kebersamaan,” ujar Munadi.
Ia juga mengapresiasi suasana kekeluargaan yang terlihat dalam rangkaian acara tersebut.
Menurutnya, tradisi adat yang tetap dipertahankan dalam momentum pernikahan memiliki nilai penting karena menjadi bagian dari identitas masyarakat sekaligus sarana mempererat hubungan antarkeluarga.
“Kita patut menjaga tradisi dan budaya yang baik seperti ini. Karena melalui adat dan kebersamaan, hubungan antarkeluarga dapat semakin kuat. Semoga keluarga besar Waleh dan Tidore semakin dekat dan terus menjaga tali silaturahmi,” katanya.
Dua Insan, Dua Keluarga, Satu Ikatan. Pernikahan Rifaldi dan Nursafaat menjadi gambaran bahwa cinta tidak hanya menyatukan dua hati, tetapi juga mampu mempertemukan dua keluarga besar dalam satu ikatan persaudaraan.
Bagi kedua mempelai, hari bahagia tersebut merupakan awal untuk menjalani kehidupan baru. Berbagai suka dan duka akan menjadi bagian dari perjalanan rumah tangga yang harus dilewati bersama.
Dengan doa dan restu keluarga besar, Rifaldi dan Nursafaat diharapkan mampu membangun rumah tangga yang sakinah, penuh kasih sayang, saling menghormati serta senantiasa menjaga nilai-nilai kekeluargaan.
Momentum tersebut sekaligus menjadi pesan sederhana bahwa cinta yang tumbuh di antara dua insan dapat menjadi jembatan untuk memperluas persaudaraan.
Dari Waleh, Halmahera Tengah, hingga Tidore Kepulauan, dua keluarga kini dipertemukan dalam satu ikatan yang diharapkan terus terjaga sepanjang masa.
Selamat menempuh perjalanan baru, Adi dan Oki. Semoga cinta yang hari ini disatukan dalam ikatan pernikahan menjadi cinta yang terus tumbuh, menguatkan dan membawa kebahagiaan bagi keluarga besar kedua mempelai.
Redaktur: Ilham Husen
JNewstv.com Berita Fakta & Realita