JNewstv.com | Jakarta
Virus Corona dari Wuhan, Tiongkok, tahun 2019 alias Covid-19, itu bikin ambyar. Merontokkan kebiasaan manusia-manusia pongah, yang membanggakan kehidupan dunia diatas segalanya, juga memurnikan homo homini lupus moderen, bahkan melacurkan keillahiyaan Sang Khalik.
Benarkah virus seukuran 0,125 mikrometer itu pasukan Allah SWT penguji janji para cucu Nabi Adam AS sebagai khalifah di bumi..? Atau covid-19 itu, seperti klaim manusia sombong bahwa makhluk subfamili Orthocoronavirinae, hasil rekayasa senjata biologis pemusnah masal demi tercipta Tatanan Dunia Baru-nya Yahudi, yang bakal dihuni cuma golongan Majikan dan Budak..?
Entahlah..! Yang jelas, bergelimpangannya jasad-jasad manusia penyebab muncul kebijakan lock down banyak negara menghasilkan kembali langit membiru. Juga menambal bolong lapisan ozon akibat polusi industri efek Rumah Kaca, sesegar mentari memancarkan ultraviolet yang berguna bagi kehidupan sehat makhluk hidup.
Bagi Indonesia, ada hikmah di balik kebijakan timpang Pembatasan Sosial Berskala Besar. Umat Islam yang diwajibkan mengosongkan masjid & musolla, justru memperkuat tatanan kehidupan berkeluarga batih dalam keimanan Illahiyah yang kaffah.
Yups, ibadah para keluarga muslim malah kian istiqomah di Jalan Allah SWT. Mereka abai akan dibukanya kebijakan tempat-tempat keramaian seperti pasar, terminal & bandara, sementara masjid/musalla tetap dilarang melaksanakan salat Jumat & Iedul fitri 1441 hijriyah.
Juga, corona virus menjadi alibi mengumbar utang. Pandemi Global Bond dari IMF pun dipakai Indonesia senilai 4,3 milyar dolar AS setara Rp 68,8 trilyun dengan tenor pembayaran sampai 12 April 2070. Pun, gelontoran APBN 2020 sebesar Rp 405,1 trilyun. Aturan ini dibuat tanpa wajib dipertanggungjawabkan secara hukum dengan disahkannya peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) nomor 1 tahun 2020 menjadi UU nomor 2 tahun 2020 pada 12 Mei terkait Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Disease 2019 atau COVID-19.
Herd Immunity pun dipilih mengiringi skema New Normal Life-nya ekonom Raden Pardede, kendati keduanya diprotes; Kekebalan kelompok dikecam WHO & Hidup Normal Baru dikritisi ahli epidemiologi.
Namun, kedua konsep itu, sama-sama tidak mempertimbangkan adanya Campur Tangan Illahi sebagai kunci solusi sebelum ditemukan vaksin anti-corona. Mulai isyarat meteorologi-klimatologi-geofisika, suasana kebatinan budaya nusantara, hingga keyakinan kekuatan doa kepada Sang Khalik.
Rekayasa Kehidupan
Sejak pandemi diumumkan virus mematikan menjadi momok. Rasa ketakutan terhadap virus sekelas influenza itu, bagi kalangan intelijen, bagian dari teror. Mengutip buku-nya Komjen Dharna Pongrekun berjudul Indonesia dalam Rekayasa Kehidupan, seperti diungkap Tony Hasyim pada FNN (15/4/2020), mengamati perkembangan wabah Covid-19 sebulan terakhir ternyata persis dengan keadaan dunia termasuk Indonesia hari ini yang dipenuhi rasa ketakutan.
Bagian akhir bukunya Dharma menyimpulkan globalisasi hanyalah sebuah sistem dari supra sistem yang merekayasa kehidupan manusia agar menjauh dari rasa keimanan kepada Kemahakuasaan Tuhan. Supra sistem ini mendorong manusia menjadi ATHEIS. Proses ini sudah terjadi sejak Allah menciptakan dunia, persisnya sejak Iblis berhasil menggoda Siti Hawa untuk membujuk Adam memetik buah terlarang di Surga. Proses penyesatan tersebut terjadi sampai sekarang. Dharma mengingatkan kepada kita, bahwa iblis adalah oknum yang nyata dan terus mempengaruhi manusia agar menjauhi Tuhan dan akhirnya manusia menemani iblis di neraka. Wallahu ‘alam bisshowab.
Penulis : Rinaldi Rais (RR), Wartawan al-Faqir, 1 Syawal – Mei 2020
NOTE : Catatan Tercecer RR
ke-11 : Covid-19, di tengah Peluang & Kehancuran
ke-10 : Covid-19, Pasukan Allah versus Manusia Sombong
ke-9 : Antara Ponzy, Hak Ulayat & Nurani Negarawan
ke-8 : Pilkada Depok 2020, Pertarungan PKS-PDIP
ke-7 : Fenomena Emak Emak
ke-6 : Kebablasan Indonesiaku
ke-5 : Stop!!! Tak Cukupkah Pahlawan Berkorban
ke-4. : Antara Kebenaran & Pembenaran
ke-3. : Pilih Presiden atawa Pesinden 2019
ke-2 : Freeport & Diplomasi Asing
ke-1 : ODGJ & Kegilaan Pemilu 2019
JNewstv.com Berita Fakta & Realita