Home / Berita / Gerakan Ka’bah Memanggil Ajak Kader Konsolidasi Kembalikan PPP Penentu Pemilu

Gerakan Ka’bah Memanggil Ajak Kader Konsolidasi Kembalikan PPP Penentu Pemilu

JNewstv | JAKARTA

Gerakan Ka’bah Memanggil memperingatkan kader-kader penghianat agar jangan menghalangi dan merongrong kemajuan Partai Persatuan Pembangunan sebagai partai kontestan penentu dalam Pemilihan Umum mendatang.

“Kami, GKM, siap menghadapi kader-kader yang coba-coba menelikung atau musuh dalam selimut. Garis perjuangan GKM jelas, dan kami tidak main-main,” ujar Habil Marati, ketua umum Gerakan Ka’bah Memanggil, kepada media, Senin (4/7).

“Mari konsolidasi internal agar kita seiring-sejalan membesarkan PPP.”
Partai berlambang Ka’bah itu, bagi Ketum Habil Marati, bukan tempat bagi orang-orang yang mendompleng menaikkan nama atau jabatan tanpa membesarkan organisasi. Setiap kader grassroot (DPC-PAC) hingga pimpinan pusat, katanya, wajib memiliki sense of belonging.

“Sekali lagi, PPP bukan Orpol cadangan. Tetapi memiliki sejarah panjang dengan partai pemenang Pemilu 2019, dan siap mendukung calon presiden yang diusungnya,” tandas Bilmar, panggilan akrab Habil Marati. “Pasangan Capres sipil-militer tidak perlu pendikotomian, tapi satu keharusan di tengah situasi kekinian Indonesia dalam globalisasi dunia.”

Dia menilai, bergabungnya Ketum PPP Soeharso Monoarfa dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) sebagai cek kosong dan menghianati Koalisi Indonesia Maju-nya Presiden Jokowi dukungan PDIP.

“Yang pasti, GKM bukan semata-mata untuk melengserkan Ketum Soemo,” tegas Habil. “GKM bertujuan membenahi PPP kembali ke marwah awal. Di antaranya surat keputusan (SK) DPP dikembalikan sebagaimana hasil musyawarah kepengurusan daerah baik DPC hingga PAC.”

Sipil-Militer
Di bagian lain, Bilmar mewacanakan calon presiden periode 2024-2029 dengan komposisi sipil-militer. Alasannya, sipil-militer mampu mengelaborasi kembalinya persatuan dan kesatuan Republik Indonesia di tengah keprihatinan perekonomian bangsa dalam era globalisasi.

“Tidak perlu lagi ada dikotomi sipil-militer, tetapi justru kebutuhan mempersatukan kembali negara Republik Indonesia sebagaimana cita-cita dan ideologi negara bangsa yaitu UUD 1945 asli dan Pancasila. Itu harga mati,” tegasnya.

Alasan Ketum Habil, sosok sipil itu orang-orang sipil berjiwa negarawan dibuktikan dengan karya nyata dan bukan hasil pencitraan media-media bayaran atau buzzer. Sedangkan militer dibuktikan dengan kepemimpinannya dalam karier militer seperti Andika Perkasa, Sutiyoso, Prabowo Subianto, Moeldoko atau bahkan Gatot Nurmantyo.

“Indonesia kekinian memang sedang tidak baik-baik saja. Negeri yang dianugerahi Allah SWT dengan sumber daya alam melimpah ini membutuhkan pemimpin yang kuat dan istiqomah dalam menjaga amanah kebangsaan yang dirintis pejuang kemerdekaan. Mari bangun soliditas dan solidaritas sosial dalam keanekaragaman SARA,” tutupnya. (Nanda/red)

About Redaktur

Check Also

Pos Pengamanan Hutan di Wasile Selatan Ludes Terbakar, Warga Pertanyakan Pengawasan

Haltim, JNewstv.com — Keberadaan pos pengamanan kawasan hutan di Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, kembali …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII