Penulis: Arini Zahrotun Nasichah (Dosen Pendidikan Biologi FKIP Unkhair)
Pernahkah terbayang, sebuah gunung api yang kerap menggeliat tak hanya menyimpan magma, tetapi juga kehidupan jamur yang menakjubkan? Bagi saya, seorang yang menyukai penelitian dunia fungi, Gunung Gamalama di Ternate bukan sekadar objek geologi. Ia adalah guru, laboratorium hidup, dan ruang kelas terluas yang pernah saya temui. Dari lerengnya yang hijau hingga tanahnya yang masih hangat oleh energi vulkanik, Gamalama bercerita tentang ketahanan, adaptasi, dan simfoni ekologi yang rumit nan indah.
Sebagai peneliti jamur, kaki saya telah menginjak banyak hutan. Namun, ada sesuatu yang berbeda di Gamalama. Bau tanah setelah hujan di lerengnya terasa lebih “hidup”, menyimpan aroma dekomposisi yang khas, pertanda miselium jamur sedang bekerja keras di bawah permukaan. Di sinilah teori-teori dalam buku teks dan jurnal menjadi nyata, menyentuh langsung indra dan rasa ingin tahu.
Gamalama adalah gunung yang masih aktif secara geologis. Penelitian geofisika bahkan menemukan jejak sistem patahan tersembunyi di bawahnya. Bagi banyak orang, ini adalah tanda bahaya. Tapi bagi kami yang mempelajari kehidupan, ini adalah keunikan. Setiap erupsi, setiap aliran material, adalah babak baru dalam cerita suksesi ekologi. Tanah mineral baru yang tandus perlahan-lahan dihidupi oleh jamur-jamur perintis, makhluk mikroskopis pemberani yang memulai proses pembentukan tanah. Memelajariini secara langsung di alam mengajarkan manusia sebuah kerendahan hati, bahwa kehidupan dimulai dari yang sangat kecil, dari organisme yang sering kita abaikan padahal dia berjasa besar bagi lingkungannya, termaasuk manusia.
Di kawasan sekitar kawah gunung seperti Gunung Bromo, di mana suhu masih hangat dan belerang tercium, saya menemukan komunitas jamur yang tangguh. Mereka adalah para “ekstremofil” , ahli bertahan hidup di kondisi yang bagi kebanyakan makhluk adalah racun. Namun mereka bertahan, beradaptasidan berkembangbiak melanjutkan perannya sebagai dekomposer bagi keseimbangan ekosistem. Melihat mereka, saya selalu teringat pada mahasiswa. Berapa banyak potensi “ekstremofil” di antara mereka yang hanya butuh lingkungan belajar yang tepat untuk tumbuh?
Kearifan Lokal sebagai Buku Teks Pertama
Pembelajaran paling berharga justru sering datang di luar rencana penelitian. Suatu sore, saya berbincang dengan seorang warga tua di lereng Gamalama. Beliau dengan lancar menyebut beberapa jenis jamur liar yang bisa dimakan, kapan musimnya muncul, dan di pohon apa mereka biasanya tumbuh. Dari beliau kita belajar, bahwa pengetahuan itu bukan hanya dari sekolah, tetapi juga bisadari pewarisan dan kedekatan manusia dengan tempat hidupnya. Inilah “sains tradisional” yang telah teruji oleh waktu.
Sejak saat itu, pendekatan saya berubah. Saya tidak lagi hanya membawa mahasiswa untuk mengidentifikasi spesies, tetapi juga untuk mendengarkan. Mendengarkan cerita masyarakat, mengamati hubungan yang telah terbangun berabad antara manusia dan jamur di sana. Apakah jamur tertentu dianggap pertanda musim hujan? Apakah ada yang digunakan dalam pengobatan tradisional? Pertanyaan-pertanyaan ini membuka jembatan antara biologi molekuler dan kearifan hidup, membuat ilmu yang kami pelajari tidak mandek di laboratorium, tetapi hidup dalam konteks masyarakat Maluku Utara.
Gamalama sebagai Ruang Kelas
Membawa mahasiswa ke Gamalama bukan sekadar studi lapangan biasa. Itu adalah proses membongkar paradigma bahwa ilmu hanya ada di ruang ber-AC dan di balik mikroskop. Di sini, di setiap zona ketinggian adalah modul pembelajaran alami.
Di area rendah yang lembap, kami mengamati jamur kayu yang melapukkan pohon tumbang. Di sini, konsep dekomposer dan siklus nutrisi terlihat nyata: jamur mengurai, menyuburkan tanah, yang kemudian memberi makan tanaman baru. Lebih tinggi, di hutan yang sejuk, kami berburu jamur makroskopis. Sorak-sorai riang selalu pecah ketika seseorang menemukan Mycena yang berbioluminesensi (bersinar lembut di kegelapan) atau jamur payung dengan warna mencolok. Kegembiraan penemuan itulah yang tidak bisa digantikan oleh video atau gambar yang diisajikan dalam buku teks..
Yang paling mendalam adalah ketika kami mengambil sampel tanah dari berbagai lokasi, lalu mengamati koloni jamur yang tumbuh di cawan Petri di hari-hari berikutnya. Setiap cawan Petri menceritakan kisah yang berbeda tentang komunitas mikroba di balik pemandangan yang kita lihat. Proses sederhana ini mengajarkan mereka tentang kesabaran, ketelitian, dan keajaiban dunia yang tak terlihat. Pengalaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran spiritual mahasiswa akan kebesaran Tuhan yang menciptakan mahluk kecil yang diabaikan namun membawa dampak besar bagi keberlangsungan ekosistem.
Refleksi Seorang Pengajar
Pengalaman bertahun-tahun mempelajari jamur mengajarkan saya satu hal: tujuan pendidikan biologi, khususnya mikologi, bukanlah untuk mencetak penghafal nama Latin jamur. Tujuannya adalah untuk menyalakan api rasa ingin tahu, untuk melatih mata melihat keajaiban dalam yang kecil, dan untuk menghargai jaring-jaring kehidupan yang saling terhubung.
Gamalama, dengan segala dinamikanya, adalah metafora yang sempurna untuk proses belajar itu sendiri. Belajar itu seperti suksesi ekologi di lereng vulkanik: dimulai dari dasar yang tampak kosong (ketidaktahuan), dihidupi oleh “organaisme perintis” berupa pertanyaan-pertanyaan kecil, yang perlahan membangun “tanah” pemahaman, hingga akhirnya mampu menopang “vegetasi” pengetahuan yang kokoh dan beraneka ragam.
Maka, kepada para pengajar dan calon peneliti di Maluku Utara, saya ingin berbagi semangat ini: kita memang kadang perlu jauh-jauh mencari sumber belajar yang canggih. Tetapi jangan lupa, sumber belajar yang kontekstual, menyenangkan, dan penuh makna ada di depan mata kita. Gunung Gamalama tidak hanya membentuk lanskap pulau ini, tetapi juga berpotensi membentuk pola pikir generasi muda yang kritis, penuh empati terhadap lingkungan, dan bangga akan kekayaan alam daerahnya.
Belajarlah dari gunung. Dengarkan cerita yang dibisikkan oleh tanah, akar, dan jamur yang tumbuh di atasnya. Karena di sanalah, sains bukan lagi kumpulan fakta, tetapi sebuah kisah hidup yang terus berlanjut dalam sisklus alam semesta.
JNewstv.com Berita Fakta & Realita