Halmahera Tengah, JNewstv.con — 7 April 2026. Luka akibat konflik yang sempat membelah persaudaraan antara masyarakat Desa Banemo dan Desa Sibenpopo kini mulai terobati. Setelah insiden pada 3 April 2026 yang menyebabkan kerusakan dan korban di kedua belah pihak, harapan akhirnya kembali menyala lewat rekonsiliasi yang berlangsung penuh haru dan makna.
Selasa sore (7/4) pukul 17.30 WIT, di Desa Sibenpopo, Kecamatan Patani Barat, dua kelompok yang sebelumnya bertikai akhirnya memilih jalan damai. Tangis pecah di tengah suasana pertemuan, saat warga saling berjabat tangan, berpelukan, dan memaafkan dengan tulus. Momen itu menjadi bukti bahwa di balik konflik, masih ada nurani yang memilih persaudaraan.
Kesepakatan damai ditandai dengan penandatanganan Pernyataan Bersama untuk Perdamaian antara masyarakat Desa Banemo dan Desa Sibenpopo. Dokumen ini bukan sekadar simbol, tetapi janji bersama untuk mengakhiri pertikaian dan menata kembali kehidupan yang rukun, aman, dan penuh kebersamaan.


Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah bersama unsur TNI/Polri, tokoh agama, dan tokoh masyarakat turut hadir, menjadi saksi sekaligus penjaga komitmen perdamaian yang lahir dari hati nurani masyarakat.
Bupati Halmahera Tengah, Ikram Malan Sangadji, dalam sambutannya menyampaikan pesan yang menggugah dan penuh makna. Ia menegaskan bahwa rekonsiliasi ini adalah langkah besar untuk mengembalikan ketenangan hidup masyarakat.
“Pertemuan ini kita lakukan untuk menciptakan kehidupan yang damai, agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman. Terima kasih kepada seluruh masyarakat dari kedua desa yang telah hadir dan membuka hati untuk berdamai,” ujar Bupati.
Dengan nada penuh harap, Bupati mengingatkan bahwa masyarakat Banemo dan Sibenpopo sejatinya adalah satu keluarga besar yang selama ini hidup dalam kebersamaan.
“Kita semua bersaudara. Dalam setiap perayaan hari besar, kita selalu bersilaturahmi, saling mendukung, dan saling mendoakan. Jangan sampai peristiwa seperti ini memecah persatuan kita,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan keprihatinan mendalam atas konflik yang dipicu oleh ego dan runtuhnya rasa saling percaya, yang akhirnya berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
“Peristiwa ini telah membuat kita tercerai-berai. Padahal kita masih memiliki perjalanan hidup yang panjang. Saya tidak ingin konflik ini berkepanjangan,” ungkapnya.
Lebih jauh, Bupati menyoroti dampak nyata konflik yang dirasakan masyarakat: aktivitas lumpuh, ekonomi terhenti, hingga anak-anak kehilangan hak untuk belajar.
“Kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Aktivitas terganggu, ekonomi lumpuh, dan anak-anak tidak bisa bersekolah. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk memperbaiki keadaan ini,” ujarnya.
Dalam pesan yang menyejukkan, ia mengajak seluruh pihak untuk berhenti saling menyalahkan dan mulai membangun kembali kepercayaan.
“Ini bukan soal siapa yang salah. Bahkan saya sebagai pimpinan daerah juga merasa bertanggung jawab. Mari kita bergandengan tangan, saling memaafkan, dan membangun kembali silaturahmi serta desa yang lebih baik,” tambahnya.
Bupati juga memberikan apresiasi kepada jajaran TNI/Polri yang sigap menjaga keamanan sejak awal konflik hingga tercapainya perdamaian.
Sebagai wujud nyata komitmen pemulihan, di akhir kegiatan dilakukan peletakan batu pertama pembangunan tujuh unit rumah layak huni bagi warga terdampak, sebagai langkah awal membangun kembali harapan yang sempat runtuh.
Rekonsiliasi ini bukan hanya tentang mengakhiri konflik, tetapi tentang menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kepercayaan. Dari air mata yang jatuh sore itu, lahir tekad bersama: cukup sudah konflik terjadi—jangan sampai terulang lagi.
Kini, Banemo dan Sibenpopo memulai lembaran baru. Dengan tangan yang kembali saling menggenggam, mereka menatap masa depan yang lebih damai, kuat, dan penuh harapan.
Ilham Husen – Tim/red
JNewstv.com Berita Fakta & Realita
