
Oleh: Maulana Patra Syah, Ketua Persatuan Alumni GMNI Halmahera Selatan
Pada panggung politik Halmahera Selatan, tanggal 30 Oktober 2024 kemarin, hadir sebuah pelaksanaan debat oleh KPU Halmahera Selatan yang sepi dari gema dialektika.
Empat pasangan calon bupati dan wakil bupati berdiri di sana, berbicara di depan masyarakat yang penuh harap, tetapi yang tersaji hanya alunan visi-misi tanpa konfrontasi nyata.
Seperti pemandangan sunyi dari sebuah ritus, masing-masing kandidat menyampaikan rencana dan cita-cita, namun tanpa sorotan tajam untuk menguji keteguhan atau strategi mereka.
Retorika yang ada terasa seperti perjalanan dalam bayang-bayang, menyajikan janji yang samar, dan sering kali gagal menembus kabut ketidakpastian yang menyelubungi masa depan.
Dalam filsafat Yunani, Aristoteles mengajarkan bahwa retorika adalah seni persuasi yang mengungkapkan kebenaran dalam konflik pikiran.
Dialektika bukanlah hanya soal berbicara indah, melainkan menelanjangi ide di hadapan publik, membiarkan setiap gagasan diuji dan dijawab.
Tapi di panggung debat Halmahera Selatan kemarin, suara-suara seperti dipagari, di mana narasi yang terjaga rapat melindungi kandidat dari kritik yang mungkin bisa menjadi pintu masuk menuju pemahaman lebih dalam.
Masyarakat menyaksikan dengan penuh harap, mengharapkan ketegasan yang membuncah keluar dari retorika empat pasangan calon bupati dan wakil bupati, namun yang hadir hanyalah bingkai besar tanpa isi mendalam.
Tanpa riak kritik yang tajam dan benturan ide yang berani antar pasangan calon, panggung debat itu tak lebih dari sebuah ritual sunyi, di mana kita hanya menyaksikan para pembaca doa berlomba menuturkan harapan tanpa menggali kedalaman visi yang sejati.
Apakah ini cara para kandidat menjaga keharmonisan?
Ataukah mereka takut pada konsekuensi yang muncul dari keterbukaan penuh?
Dalam ruang debat yang semestinya menjadi medan pengujian, keheningan atas isu-isu konkret membuat panggung itu seakan kehilangan daya.
Konfrontasi yang seharusnya membuka celah bagi pemilih untuk mengenal karakter pemimpin, kini tereduksi menjadi penyampaian yang terlalu aman.
Seperti sebuah jalan sunyi dalam politik, debat ini mengingatkan kita pada bahaya dari janji tanpa keberanian.
Mungkin, retorika yang hidup di dalam debat seharusnya bukan sekadar kata-kata yang membuai, melainkan denting tajam yang mempertanyakan dasar visi yang diusung.
Di debat kedua mendatang, semoga kita tidak lagi melihat pasangan calon yang sekedar bertutur, tetapi juga mereka yang berani mempertaruhkan kata demi kejujuran.
JNewstv.com Berita Fakta & Realita