
JNewstv.com | JAKARTA
Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19, dinilai oleh pengamat bisnis meluluhlantakkan tatanan usaha produktif perseorangan berupa usaha mikro kecil menengah & perekonomian (UMKM) nasional.Hal ini dikatakan oleh Rinovian Rais, dosen Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi(12/05)
Rinovian Rais mengatakan bahwa pelaku UMKM paling terdampak program PSBB, dan hal itu sangat berimbang bagi perekonomian nasional karena kontribusinya sampai 60% pada Produk Domestik Bruto & 97% tenagakerja.
” Contohnya UMKM Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang terkena PSBB. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IPPI) pada 2018, seperti diungkap tirto.id, mencatat perputaran uang kisaran Rp200 milyar per hari dengan asumsi ada 20 ribu kios beromzet Rp10 juta/hari. Artinya, para pedagang di Tanah Abang meraih omzet sekitar Rp72 triliun/tahun,” ungkapnya.
Ia menjabarkan bahwa kalkulasinya, perekonomian nasional akan kehilangan perputaran uang Rp2 trilyun per 10 hari PSBB dan membengkak menjadi Rp6 trilyun per 30 hari PSBB dari pasar regional tekstil terbesar se-Asia Tenggara.
” Padahal Kementerian Koperasi & UMKM pada 2017 merinci 62.106.900 unit usaha mikro, 757.090 (usaha kecil), 58.627 (menengah), & 5.460 skala usaha besar. Masing-masing menyerap tenaga kerja 107,2 juta orang atau 89,2%, ada 5,7 juta orang (4,74%), serap 3,73 juta (3,11%), dan 3,58 juta orang atau 3,10%,” jelas Rinovian.
Rinovian mengakui bahwa sejumlah UMKM masih bisa bertahan di tengah Qif-19. Mulai UMKM penghasil barang konsumsi & jasa untuk kebutuhan masyarakat, hingga memanfaatkan transaksi daring, dan memanfaatkan sumber daya lokal berupa SDM, bahan baku, sampai peralatan.
“Pertanyaannya, sampai kapan bisa bertahan, dan berapa banyak pelaku UMKM yang bisa bertahan? Disinilah perlu kehadiran pemerintah untuk melakukan langkah nyata perlindungan kepada UMKM yang terdampak Qif-19. Karena itu, patut ditunggu realisasi dari arahan Presiden Joko Widodo terkait stimulus bagi UMKM,” tutupnya. (Harun)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita