Home / Advetorial / Perkawinan Dengan Cara Adat Buton dan Muna Masih Hidup di Provinsi Sultra

Perkawinan Dengan Cara Adat Buton dan Muna Masih Hidup di Provinsi Sultra

JNewstv.com | Sultra, Bau Bau. – Acara perkawinan menggunakan tata cara tradisi kearifan lokal (adat) masih terawat dan terpelihara dengan baik di kalangan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). (08/08/2021).

Hal itu dapat dilihat dari acara perkawinan dengan konsep adat terjadi baru-baru ini. Dimana Adat MUNA dan Adat BUTON yang selalu menjadi tradisi turun temurun, itu dipraktekkan salah satu keluarga yakni keluarga bapak La Umuru dan Ibu Wa Maniru. Kota Bau Bau, Kelurahan Kadolomoko, Kec. Kokalukuno, yang di selenggarakan selama tiga hari tiga malam, mulai tanggal, 6 s/d 8 Agustus 2021.

Dari penyampaian La Umuru, bahwa mereka menggelar acara adat yang di sebut Sariga atau yang di kenal dengan acara Pingitan, acara adat itu biasa dilakukan selama 7 hari 7 malam. Namun berhubung karena adanya pandemi Covid-19 dan diberlakukan PPKM maka pelaksanaan acara yang seharusnya berlangsung 7 hari 7 malam itu diperpendek waktunya menjadi hanya 3 hari 3 malam saja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (Prokes).

Foto : Proses Adat Sariga Pengambilan Ketupat oleh Para Gadis yang Didampingi Matan Salah

Sariga atau Pingitan itu dilakukan satu keluarga besar yang mana mulai dari anak sampai cucu di kumpulkan, khususnya yang belum menikah yang laki-laki dimandikan 2 kali sehari dengan air yang sudah dibacakan doa-doa.

Begitu juga dengan anak perempuan dimandikan 2 kali sehari juga dengan tambahan bagi anak cucu yang perempuan adalah setelah dimandikan selanjutnya dipingit di satu ruangan terpisah selama 3 hari 3 malam.

Dan diketahui bahwa selama 3 hari 3 malam itu mereka tidak diperbolehkan bicara dengan orang lain dan juga tidak bisa dilihat orang lain selain MATAN SALA atau salah satu BIANG yang sudah ditunjuk untuk menjaga mereka.

Sedangkan pihak kelurga besar lainnya ditugaskan memukul GONG juga GENDANG slama 3 hari 3 malam, untuk waktu pagi, pemukulan gong dan gendang dilakukan pada pukul 09.00. Wit, hingga pukul 11.30. Wit.

Foto : Acara puncak setelah 3 hari 3 malam layaknya seperti pesta pernikahan dengan mengundang kerabat dekat juga warga sekitar, dan anak-anak yang di pingit duduk berjejer di atas panggung dengan memakai baju adat.

Sementara untuk mlam hari pemukulan gong dan gendang dimulai pukul 20.30 Wit. Hingga jam 04.00 Wit. Pagi hari, GONG dan GENDANG harus berbunyi terus tidak boleh berenti dengan maksud supaya anak cucu perempuan yang di pingit tidak merasa kepanasan dan juga tidak merasa sepi karena selalu di jaga siang maupun malam.

Setelah 3 hari 3 malam barulah acara puncak layaknya seperti pesta pernikahan dengan mengundang kerabat dekat juga warga sekitar, dan anak-anak yang di pingit duduk berjejer di atas panggung dengan memakai baju adat.

Adat dan Budaya dari masyarakat Adat Buton dan Adat Muna ini masih ditetap dilestarikan dan dijaga hingga sekarang, karna merupakan ritual adat budaya yang sudah turun temurun hingga sekarang bagi masyarakat Adat Buton dan Muna. (Ray)

About jnews

Check Also

Tidak Hanya Dapat Jadwal Yang Pasti, Masyarakat Makin Rasakan Kecepatan Pengukuran Tanah

JNewstv.Com | Bengkulu – Kepastian jadwal dan kecepatan proses jadi manfaat yang dirasakan masyarakat saat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII