JNewstv.com | JAKARTA. Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim ditolak oleh Ormas Kebangsaan sekelas Muhammadiyah & lembaga pendidikan Ma’arif NU diapresiasi pemerhati kebijakan publik, Rinaldi Rais.Hal ini dikatakannya kepada JNewstv.com. (27/07/20)
Rinaldi Rais mengatakan bahwa Muhammadiyah dan NU bukan Ormas kaleng-kaleng dalam dunia pendidikan, dan selalu mendukung kebijakan pemerintah. Namun, kalau sampai ada penolakan terhadap sebuah kebijakan kementerian, boleh dipastikan ada yang salah dalam kebijakan tersebut,.
” Kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim terkait program organisasi penggerak pendidikan bukan sekadar bantuan sosial, melainkan sebuah kebutuhan dalam pembentukan karakter anak bangsa yang dilandasi ideologi Pancasila dan UUD 1945 asli,” ujarnya yang juga praktisi hukum itu,
Pengamat Rinaldi meyakini kebijakan
Ia menjelaskan bahwa sikap penolakan Muhammadiyah & NU bukan ego sektoral tetapi sebuah protes dari rasa nasionalisme anak bangsa yang peduli nasib bangsa & negara Republik Indonesia. Bukan sekadar membebek karena tergiur insentif sesaat,
Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pengurus Pusat Muhammadiyah, dan Lembaga Pendidikan Maarif NU diketuai Arifin Junaidi, menyatakan mundur & minta evaluasi program organisasi penggerak yang diinisiasi Mendikbud Nadiem Makarim.
Disusul hasil seleksi POP itu, yang mengalokasikan 20% dana pendidikan senilai Rp 508 trilyun dari APBN 2020 sebesar 2.231,2 trilyun, di antaranya diberikan ke Yayasan Putera Sampoerna & Yayasan Bhakti Tanoto Foundation masing-masing Rp 20 milyar. Kategori hibah dana Rp 20 milyar sekelas gajah, Rp 5 milyar kategori macan, dan kijang sampai Rp 1 milyar. (Harun/red)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita