JNewstv.com | Jakarta. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) seyogyanya mewujudkan janji-janjinya dalam seratus hari ke depan agar lebih fokus pada penyempurnaan kebijakan yang sudah dijalankan Mendag sebelumnya Muhammad Lutfi. Terutama dalam mempercepat proses penyediaan bahan kebutuhan pokok.
Bukan mewujudkan mimpi putrinya yang bakal mengikuti calon legislative di dapil Lampung.
Hal ini disampaikan oleh Pakar Komunikasi Politik, Lely Ariane di Jakarta, Senin (18/7/2022).
Menurut Lely, Zulhas sedang mencari keuntungan politis untuk kepentingan personal.
Aksi pembagian minyak goreng oleh Zulhas di Telukbetung Timur, Bandar Lampung, Sabtu (9/7/2022), menuai ragam persepsi. itu menjadi sorotan lantaran pria yang juga merupakan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu turut meminta warga untuk memilih putrinya Futri Zulya Savitri, dalam pemilu mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan membagikan Minyak Kita yang merupakan produk minyak goreng curah kemasan yang dijual murah yakni Rp 14 ribu per liter.
Bagi Lely, meski Zulhas berkilah bahwa minyak goreng yang berasal dari program Kemendag itu dijual dengan harga Rp 10 ribu untuk dua liter dan sisanya Rp. 4000 dibayar putrinya, tetap saja membuat kegaduhan yang tak berarti.
Apalagi Zulhas baru jadi mendag, lantas sibuk kampanye?
Wajar jika Jokowi meminta agar Zulhas mengamankan harga pangan dan kebutuhan pokok masyarakat.
“Tak tanggung-tanggung, Zulhas meminta warga yang datang untuk tidak usah membayar minyak tersebut, alias gratis. Bisa dilihat di rekaman video saat Zulhas dan anaknya Futri Zulya Savitri membagikan minyak goreng merek Minyakita di acara PAN-SAR Murah yang diadakan di Kecamatan Telukbetung Timur, Bandar Lampung,” sebut Lely.
” Jika mau bagi-bagi minyak goreng murah, semua pelosok Indonesia. Jangan cuma di dapil putrinya. Cek harga migor di Maluku, Maluku Utara, Papua dan daerah terluar lainnya. Harus adil dunk. Zulhas menunjukan peran ganda sebagai Mendag juga Politisi PAN. Ibarat, ada udang dibalik rempeyek. Jika ingin membahagiakan rakyat, bahagiaakan semuanya..” tambah Lely.
Lely menjelaskan, bagi-baginya migor mengindikasikan bahwa Ketum PAN itu gencar melakukan berbagai upaya dalam rangka menarik simpati rakyat yang berbuah pada kemenangan.
Fenomena ini, kata Lley, di sebut dramaturgis bahwa konsep yang menjelaskan bagaimana setiap individu selalu memiliki panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage) dalam kesehariannya.
Panggung depan adalah arena di mana seseorang melakukan pertunjukan (show), berikut bagaimana ia ingin dinilai oleh orang-orang yang melihatnya. Sebaliknya, panggung belakang adalah keadaan individu sebagaimana adanya, yakni ketika dirinya tak sedang melangsungkan pertunjukan atau tak sedang “melakukan akting”.
Selain dramaturgis, Lely juga melihat cara-cara political impression atau pencitraan yang sengaja diorkestra dengan apik melalui slogan bernama “membantu masyarakat yang kesulitan?”.
Memang, politik pencitraan diperlukan sebagai sarana menjual “komoditas” partai dan cara efektif mengubah stigma negatif yang ada dalam masyarakat.
(Amir)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita