JNewstv.com | Jakarta.
Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Dody Edward, didampingi Karohumas Olvy Andrianita berharap dengan adanya transaksi ekonomi dalam ekspor produk pertanian ,makanan – minuman dan kosmetik Indonesia ke Arab Saudi dan kawasan teluk dapat mengkoreksi defisit perdagangan yang terakumulasi Januari-November 2019 mencapai US$ 3,11 miliar atau hampir Rp 43,5 trilyun dengan kurs Rp 14.000/dolar AS.Hal ini dikatakan kepada awak media pada tanggal 02-01-20.
Dody mengatakan pihaknya menyasar dan memanfaatkan pasar Arab yang unik,karena besarnya pangsa pasar jamaah haji dan umroh merupakan peluang besar ekspor bagi produk Indonesia.
“Untuk itu Indonesia berpartisipasi pada Jeddah International Trade Fair (JITF) 2019, Kerajaan Arab Saudi. Alhasil, acara pertengahan Desember 2019 itu menghasilkan transakj Rp 235 milyar dengan menjual pisang, kemenyan, kopi, arang, dan briket, senilai Rp 129 milyar dan sisanya transaksi penjajakan kesepakatan dagang (business matching),” paparnya.
Lanjutnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat akumulasi defisit perdagangan Januari-November 2019 yang US$ 3,11 miliar setara Rp 43,5 trilyun itu gegara angka ekspor & impor sama-sama melorot.
“Kondisi itu sudah kami ingatkan sejak dua bulan lalu bahwa ada tantangan sangat luar biasa sehingga perlu ekstra hati-hati karena ekonomi melambat dan Perdagangan internasional melambat,sehingga permintaan turun,”ucapnya.
Tambah dia,kondisi itu diharapkan mampu dikoreksi dalam perdagangan Arab Saudi-Indonesia yang mencapai USD 6,1 miliar. Periode Januari—September 2019, total perdagangan kedua negara tercatat USD 3,8 miliar dengan nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi USD 1,1 miliar atau meningkat 22,89 % dibanding periode sama tahun lalu.
“Produk utama ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi, antara lain kendaraan bermotor, kelapa sawit dan turunannya, tuna, ban pneumatik baru, saus dan olahannya, kertas, kertas karton, dan arang kayu,terangnya.(Harun)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita