Home / Berita / Nasional / JAMUR GRIGIT, KEHO DLOLE (Schyzophillum communae ) DAN POTENSINYA DI WILAYAH KEPULAUAN MALUKU UTARA

JAMUR GRIGIT, KEHO DLOLE (Schyzophillum communae ) DAN POTENSINYA DI WILAYAH KEPULAUAN MALUKU UTARA

 

 

 

 

 

 

DR. Arini Zahrotun Nasicha, S.Pd,. M.Pd.

JNewstv.com – Kepulauan Maluku Utara yang sangat subur menyimpan kekayaan biodiversitas jamur makroskopis liar yang sangat besar dan belum banyak dieksplorasi beradaan dan manfaatnya. Salah satu jamur makroskopis liar dari kelompok Basidiomycota yang mampu tumbuh dan tersebar di kepulauan Maluku Utara, dari mulai Pulau Ternate, Maitara, Tidore dan Halmahera Barat, Halmahera Timur, Halmahera tengah dan Halmahera Selatan adalah jamur grigit yang memiliki nama laitin (Schizophyllum communae). Namun masyarakat etnis Tidore menyebutnya sebagai keho dlole.

Secara morfologi, keho dlole atau jamur grigit memiliki ukuran tudung yang kecil, berwarna putih keabuan atau putih kecoklatan. Keho dlole umumnya tumbuh diatas permukaan kayu lapuk atau pohon yang masih hidup karna sifatnya sebagai saprofit atau parasite seperti kayu mangga, kayu kelapa yg sudah lapuk, kayu nangka dan dan lain-lain. Karena jamur ini juga tumbuh pada pohon kayu yang masih hidup, maka dia dikategorikan sebagai jamur pelapuk kayu.

Sebagai jamur pelapuk kayu, keho dlole mampu menguraikan komponen-komponen sel kayu melalui proses enzimatik dari bentuk senyawa komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana. Ketahanan kayu terhadap jamur ini sangat dipengaruhi oleh kandungan zat ekstraktifnya meskipun tidak semua zat ekstraktif bersifat racun bagi organisme perusak kayu.

Oleh karena itu, dalam penelitian Maryam, dkk (2011) dilaporkan bahwa Schizophyllum Communae atau keho dlole atau jamur grigit atau jamur krikit dapat digunakan sebagai standar dan direkomendasikan untuk jamur pengujian ketahanan alami kayu karena dapat menghilangkan bobot hingga 32.2 % pada kayu sengon dengan arah serat longitudinal.

Pada beberapa masyarakat yang sudah mengenalnya, jamur ini mereka manfaatkan sebagai bahan pangan pengganti lauk pauk karena rasanya gurih dengan tekstur dan rasa yang hampir mirip dengan daging ayam. Berdasarkan penelitian penulis, masyarakat local di Pulau ternate, Tidore hingga kepulauan Halmahera juga telah memanfaatkannya sebagai bahan pangan dengan berbagai variasi olahan, seperti ditumis, digoreng tepung ataupun dimasak dengan kuah santan.

Meskipun jamur ini dapat dimakan, namun harus tetap diwaspadai terutama bagi orang-orang yang rentan muncul reaksi alergi karena jamur ini menyerap kelembaban sehingga akan mengembang selama proses pencernaan. Namun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa jamur ini mengandung komponen antitumor dan antivirus, sehingga pada masyarakat tertentu di Indonesia jamur ini digunakan sebagai obat tradisional untuk menghilangkan demam dan batuk.

(Tulisan ini disarikan dari hasil penelitian penulis tentang eksplorasi jamur makroskopis liar di kepulauan Maluku Utara dari tahun 2018-2021)

About jnews

Check Also

Tim Jibom Gegana Brimob Malut Amankan Granat dan Mortir Peninggalan Perang Dunia II

MOROTAI, Teropong Malut Post — Dua granat dan satu mortir yang diduga merupakan peninggalan Perang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII