Home / Berita / Kesehatan / Potensi Kekayaan Jamur Maluku Utara Dalam Upaya Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Melalui Mikoremidiasi

Potensi Kekayaan Jamur Maluku Utara Dalam Upaya Rehabilitasi Lahan Bekas Tambang Melalui Mikoremidiasi

Penulis : Dr. Arini Zahrotun Nasichah, S.Pd, M.Pd (Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun)

Berdasarkan hasil penelitian penulis,wilayah kepulauan Maluku Utara memiliki kekekayaan hayati Jamur makroskopis liar dari kelompok Basidiomycetes yang sangat beranekaragam jenisnya disepanjang pulau Ternate hingga kepulauan Halmahera.Jamur-jamur liar dari kelompok jamur besar atau Basidomycetes tersebut memiliki potensi besar sebagai agen mikoremediasi. Mikoremidiasi adalah suatu proses pendegradasian atau penghilangan bahan toksik dari lingkungan yang tercemar dengan menggunakan fungi (Asiriuwa et al. 2013). Pada proses remediasi cemaran di lingkungan melibatkan fungi beserta mekanisme reduksinya, baik secara intraselular maupun ekstraselular.

Rehabilitasi pencemaran lahan bekas tambang menggunakan jamur sebagai agen mikoremidiasi dilakukan karena kemampuannya dalam mendegradasi polutan dan merombak senyawa kimia berbahaya menjadi bentuk yang lebih aman. Di Maluku Utara, jamur-jamur tertentu yang telah terdata dari hasil penelitian eksplorasi penulis memiliki potensi besar sebagai agen bioremidiasi berbasis jamur (mikoremidiasi) dengan menghilangkan logam berat dan senyawa kimia berbahaya pada lahan yang tercemar. Jamur basidiomycetes memiliki kemampuan untuk mendegradasi senyawa organik kompleks, termasuk senyawa berbahaya seperti logam berat, pestisida, dan hidrokarbon.

Beberapa jenis jamur yang sering digunakan dalam bioremediasi lahan bekas tambang termasuk jamur-jamur pelarut fosfat, jamur mikoriza, dan jamur putih. Jamur pelarut fosfat membantu menyediakan nutrisi bagi tanaman yang membantu dalam reboisasi lahan bekas tambang. Sementara itu, jamur mikoriza membantu dalam meningkatkan kandungan hara tanah dan menurunkan kadar logam berat. Jamur putih seperti Pleurotus ostreatus juga dikenal karena kemampuannya dalam mendegradasi senyawa organik.

Beberapa jenis jamur basidiomycetes yang dikenal memiliki potensi bioremediasi di lingkungan termasuk Trichoderma asperellum, yang dapat membantu dalam mengurangi infeksi pada tanaman kakao dan merangsang pertumbuhan tanaman. Selain itu, jamur basidiomycetes seperti Pleurotus ostreatus dan Phanerochaete chrysosporium juga dikenal karena kemampuannya dalam mendegradasi senyawa organik kompleks (Nahid, A dan M. Amin-ul Mannan, 2020).

Menurut hasil penelitian penulis yang terdokumentasi dalam buku “Jamur Makroskopis Liar di Kepualauan Maluku Utara” (2021), ditemukan jamur dari kelompok genus Ganoderma, baik di Pulau Ternate, Tidore, Maitara, Halmahera Barat, Halmehara tengan dan Halmahera Utara (dengan jumlah jenis terbanyak). Berbagai penelitian telah membuktikan kemampuan Ganoderma dalam mereduksi pollutant hasil limbah industry tekstil ( Stefford, et al. 2022) maupun limbah polutan logam berat pada lahan bekas tambang 9Azizah, 2020).

Bagaimana Jamur Bekerja sebagai Agen Mikoremidiasi?

Proses fisiologi dan biokimia bioremediasi dengan jamur makroskopis liar basidiomycetes melibatkan serangkaian mekanisme kompleks yang melibatkan enzim dan jalur metabolik jamur untuk mendegradasi senyawa polutan. Berikut adalah tahapan umum dalam proses fisiologi dan biokimia bioremediasi dengan jamur makroskopis liar basidiomycetes:

Produksi Enzim

Jamur basidiomycetes memproduksi enzim yang dapat mendegradasi senyawa kimia berbahaya, termasuk logam berat, hidrokarbon, dan senyawa organik kompleks. Enzim-enzim ini termasuk oksidase, peroksidase, dan ligninase yang berperan dalam proses bioremediasi.

Metabolisme Senyawa Polutan

Setelah enzim-enzim dihasilkan, jamur basidiomycetes akan mulai mendegradasi senyawa polutan dengan mengubah struktur kimia senyawa tersebut. Proses metabolisme ini melibatkan serangkaian reaksi biokimia yang mengubah senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dan aman.

Adsorpsi dan Absorpsi

Selama proses bioremediasi, jamur basidiomycetes dapat menyerap senyawa polutan dari lingkungan sekitarnya ke dalam tubuh jamur. Selain itu, jamur juga dapat menyerap logam berat dan senyawa berbahaya ke dalam jaringan tubuhnya untuk diolah lebih lanjut.

Transformasi Senyawa

Jamur basidiomycetes mampu mentransformasi senyawa polutan menjadi senyawa yang kurang beracun atau mengubah senyawa kimia kompleks menjadi bentuk yang lebih mudah dihilangkan dari lingkungan. Proses transformasi ini membantu membersihkan lahan dari pencemaran.

Interaksi Tanah-Jamur

Proses bioremediasi juga melibatkan interaksi antara jamur basidiomycetes dengan mikroorganisme dan tanah. Jamur bekerja secara sinergis dengan organisme tanah lainnya untuk membersihkan tanah dari polutan dan memperbaiki kualitas tanah secara keseluruhan.

Melalui proses fisiologi dan biokimia yang kompleks ini, jamur makroskopis liar basidiomycetes dapat efektif digunakan dalam bioremediasi lahan tambang di Maluku Utara untuk membersihkan tanah dari logam berat dan senyawa kimia berbahaya lainnya. Proses ini tidak hanya membantu mengembalikan kualitas lingkungan yang tercemar, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekosistem lokal.Dengan memanfaatkan jamur basidiomycetes yang merupakan kekakayaan hayati kepualaun Maluku Utara ini, dapat mengurangi pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan atau industri lainnya di wilayah daerah tambang di kepulauan Halmahera dan sekitarnya. Strategi bioremediasi yang melibatkan jamur basidiomycetes dapat membantu membersihkan lahan yang tercemar secara alami dan efektif, sehingga mendukung upaya pelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

About jnews

Check Also

Tim Jibom Gegana Brimob Malut Amankan Granat dan Mortir Peninggalan Perang Dunia II

MOROTAI, Teropong Malut Post — Dua granat dan satu mortir yang diduga merupakan peninggalan Perang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII