“REKLAMASI MENGIKIS BUDAYA DAN ADAT ISTIADAT”
Oleh : Faisal Kurniawan Sangadji
Kini pantai bukan lagi tempat bermain yang nyaman, tempat ikan ikan kecil bersemayam. Rumah kebun kakek pun tak se indah kemarin. Tangkai daun kelapa untuk berseluncur tragis disulap dengan pemandangan excavator dengan gugusan tanah dan batu yang kering kerontang.
Dengan sombongnya gincu merah hasil reklamasi itu meracuni mata pangan anak pesisir. Bedak produk penggusuran diriaskan dalam skema dandan kota bersejarah. Berkas molek menampilkan keseksian kota yang digadang gadang adalah daerah istimewah. Ramah senyum kearifan lokal musnah sirna, tertutup sapaan hangat yang punya modal.
Kota tempat bersejarah Kapita-Kapita , harapan penggantung hidup putus di tengah peraduan. Dada busung gedung gedung pencakar langit harum tercengang di ujung hidung komoditas berbau tak sedap. Kota ini tak lagi mengenal arti cinta petuah mereka yang telah menyemai kasih berjuang hingga beberapa generasi.
Perkembangan peradaban menjadikan kota besar mengalihkan pandangannya ke wilayah pesisir. Berbagai kepentingan dikantongi, Daerah pantai yang kualitas lingkungan rendah yang selama ini tak diabaikan mulai dilirik. Daerah pantai didapuk sebagai penyedia hunian penduduk perkotaan. Reklamasi, memanfaatkan habitat yang telah ada dengan dalih meningkatkan nilai ekonomi dan lingkungannya.
Ironisnya, banyak reklamasi yang menuai kepentingan sepihak tanpa memperhatikan aspek lainya. Sosial masyarakat, kultur budaya dan kearifan lokal disampingkan. Lihat saja mimpi anak anak nelayan yang dipaksa kembali ke darat . Gusar muka tak berdaya menikmati pemandangan baru yang tidak solutif. Tempat di mana rasa kekeluargaan, saling percaya dan keinginan mengembangkan tradisi alam. Padahal di sana, budaya nelayan telah hidup sejak generasi pendahulu mereka mendiami pantai.
Revolusi ekologi sangat represif, lihai di mainkan yang dampaknya mengikis budaya yang ada. Rumah tapak berganti rumah susun atau apartemen sebagai lahan sewa. Pemukiman masyarakat pesisir teraniaya, mental mereka di goyang serempak. Nelayan lokal membangun rumah-rumah mereka di atas tanah bahkan di atas air.
Bising kebingungan mencari kehidupan baru bergentayangan di pikiran mereka. Tentunya susah untuk bisa adaptasi dengan gaya hidup baru. Belum lagi tempat mereka jauh dari pesisir. Reklamasi memengaruhi interaksi sosial yang terjadi antar masyarakat. korban dari reklamasi Yang miskin akan tersisih dari wilayah tersebut akibat penataan ruang.
Hal ini berimplikasi pada Sosio masyarakat yang dengan signifikan dapat meningkatkan nilai lahan dan gaya hidup masyarakatnya. Apalagi cenderungnya pengikisan di wilayah pesisir notabenenya tidak aspiratif.
Kecerdikan yang pongah itu kini kian menggelitik untuk yang tertindas. Pemerintah mengeksploitasi pantai disebutnya sebagai semangat mencari keuntungan dan kerakusan semata. “Sekarang kita menggunakan eufimisme seperti globalisasi dan perjanjian dagang. Hal ini memberi kesan bahwa makanan bukanlah lagi sesuatu untuk dimakan, melainkan sebuah komoditas”.
Manusia tak lagi dapat dipuaskan oleh hal-hal yang sederhana. Tingkat kepuasan manusia dinilainya semakin komplit dan beragam bahkan tersistem. Jika dulu manusia dapat terpuaskan keinginannya dari apa yang dihasilkan tanah, maka kini tidak lagi. Kepuasannya kian beragam dengan menciptakan standar sendiri. Kepuasan itu bertambah besar dengan tumpukan benda-benda hasil buatan manusia sendiri yang tak berguna namun terus diproduksi. Benda yang hanya mampu dibeli oleh mereka yang kaya.
Potret bengis anak pantai kini hanya menjadi cerita di masa akan datang bahwa sesungguhnya kita adalah semayam benih yang ditanam subur dan harus dipaksa bermimpi menyanyikan simponi “Laut kita indah”.
Hutan bakau dibabat. Berganti bangunan elok dengan kemilau cahaya yang menerobos rekahan jendela kristal. Tak ada lagi pewarisan pengetahuan turun-temurun dari generasi mengenai ilmu hewan dan tumbuh tumbuhan, membaca musim, angin, cuaca atau merapal mantra. Sungguh malang menyaksikan rantai pengetahuan yang dibangun ratusan tahun pengalaman akan binasa oleh satu generasi yang menganggapnya bualan belaka.
Setelah prosa reklamasi banyak berdengung, semarak di mata pembaca di artikel artikel bahkan kacamata realita , kita cuma mampu menjadi jasad yang terbungkus kekuatan tapi mati dalam ingatan.
Mereka berpindah. Mencari pantai lain untuk dijadikan perkampungan. Lalu terusir lagi atas nama pembangunan hotel, restoran, atau perumahan. Hidup mengajarkan mereka satu hal bahwa di dunia ini ada orang yang boleh merampas sesuatu yang bukan miliknya. Kini anak-anak nelayan mendendangkan lirih lagu “nenek moyangku seorang pelaut yang terusir”.
JNewstv.com Berita Fakta & Realita