Home / Pariwisata / (Seni dan Budaya / Rumah Adat Sasadu dan Tifa Panjang, Warisan Leluhur Suku Sahu yang Tetap Lestari di Halmahera Barat

Rumah Adat Sasadu dan Tifa Panjang, Warisan Leluhur Suku Sahu yang Tetap Lestari di Halmahera Barat

HALMAHERA BARAT, JNewstv.com – Di tengah perkembangan modernisasi, masyarakat Suku Sahu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, terus menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur sebagai bagian dari identitas daerah. Dua simbol budaya yang hingga kini masih bertahan adalah Rumah Adat Sasadu dan Tifa Panjang, yang tetap digunakan dalam berbagai kegiatan adat dan tradisi masyarakat.

 

Rumah Adat Sasadu menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat Suku Sahu. Bangunan tradisional tanpa dinding ini melambangkan keterbukaan, persatuan, serta semangat gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Sasadu dibangun menggunakan material alami seperti kayu, bambu, rotan, dan atap dari anyaman daun sagu. Keunikan bangunan ini terletak pada konstruksinya yang tidak menggunakan paku maupun sekrup, melainkan ikatan rotan yang membuatnya tetap kokoh menghadapi perubahan cuaca.

 

Bentuk atapnya yang memanjang menyerupai haluan dan buritan perahu memiliki makna filosofis tentang perjalanan hidup masyarakat Suku Sahu yang selalu mengedepankan persatuan dalam menghadapi berbagai tantangan.

 

Ketiadaan dinding pada bangunan Sasadu juga menjadi simbol keterbukaan. Siapa pun dapat masuk dari berbagai sisi tanpa memandang status sosial maupun latar belakang, sehingga rumah adat ini menjadi lambang musyawarah, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama.

 

Hingga kini, Sasadu masih difungsikan sebagai tempat pelaksanaan musyawarah adat, penyelesaian persoalan masyarakat, penyambutan tamu kehormatan, hingga ritual Orom Sasadu, yakni pesta adat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

 

Selain Sasadu, masyarakat Suku Sahu juga memiliki alat musik tradisional khas berupa Tifa Panjang. Berbeda dari tifa pada umumnya, alat musik ini berukuran lebih panjang dengan suara yang lebih dalam dan bergema.

 

Tifa Panjang biasanya dimainkan secara berkelompok untuk mengiringi tarian adat seperti Legu Salai dan Saradabi-Dabi, sekaligus menjadi penanda dimulainya berbagai prosesi adat.

 

Dalam berbagai festival budaya, termasuk Festival Teluk Jailolo, Rumah Adat Sasadu dan Tifa Panjang selalu menjadi daya tarik yang memperkenalkan kekayaan budaya Halmahera Barat kepada wisatawan lokal maupun mancanegara.

 

Pelestarian kedua warisan budaya tersebut dinilai penting karena tidak hanya menjaga bangunan dan kesenian tradisional, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai luhur seperti persaudaraan, gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Berbagai pihak berharap generasi muda terus dilibatkan dalam setiap kegiatan adat agar Rumah Sasadu dan Tifa Panjang tetap hidup sebagai identitas budaya masyarakat Halmahera Barat sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang terus lestari. (Tim/Red)

About Redaktur JNewstv

Check Also

Pos Pengamanan Hutan di Wasile Selatan Ludes Terbakar, Warga Pertanyakan Pengawasan

Haltim, JNewstv.com — Keberadaan pos pengamanan kawasan hutan di Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, kembali …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII