Oleh: Dr. Arini Zahrotun Nasichah, S.Pd., M.Pd (Dosen Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Khairun )
Di tengah gencarnya promosi pangan lokal dan semakin tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ketahanan pangan, masih banyak kekayaan kuliner Nusantara yang perlahan menghilang dari ingatan. Salah satunya adalah tepung coco, tepung tradisional berbahan dasar singkong yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat etnis Tidore dan Makian di Provinsi Maluku Utara.
Ironisnya, istilah “tepung coco” kini terdengar asing bagi sebagian besar generasi muda. Bahkan tidak sedikit masyarakat Maluku Utara sendiri yang belum pernah melihat proses pembuatannya, apalagi mengonsumsinya. Padahal, jauh sebelum tepung terigu menjadi bahan utama berbagai makanan, masyarakat Tidore dan Makian telah mengenal teknologi pengolahan singkong menjadi tepung yang memiliki daya simpan lama dan dapat diolah menjadi berbagai jenis pangan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa hilangnya sebuah makanan tradisional bukan sekadar hilangnya sebuah resep, tetapi juga hilangnya pengetahuan, budaya, dan identitas suatu masyarakat.
Kearifan Lokal yang Lahir dari Kebutuhan
Bagi masyarakat pesisir dan kepulauan Maluku Utara pada masa lalu, singkong merupakan salah satu sumber karbohidrat yang mudah dibudidayakan. Namun, singkong segar memiliki keterbatasan karena cepat rusak setelah dipanen.
Para leluhur kemudian mengembangkan cara sederhana namun efektif untuk memperpanjang umur simpan singkong. Umbi dikupas, dicuci, diparut, diperas, kemudian dikeringkan dan dihaluskan menjadi tepung. Hasil akhirnya dikenal masyarakat sebagai tepung coco.
Teknik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tradisional telah memahami prinsip dasar teknologi pangan jauh sebelum istilah “teknologi pascapanen” dikenal secara ilmiah. Melalui proses pengeringan, kadar air singkong diturunkan sehingga aktivitas mikroorganisme penyebab pembusukan dapat ditekan. Tepung yang dihasilkan dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama dan digunakan ketika musim paceklik atau saat hasil kebun berkurang.
Dalam konteks ketahanan pangan, tepung coco sesungguhnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi geografis kepulauan yang sering menghadapi keterbatasan distribusi bahan makanan.
Lebih dari Sekadar Tepung
Bagi masyarakat Tidore dan Makian, tepung coco bukan hanya bahan makanan. Ia merupakan bagian dari kehidupan keluarga. Proses pembuatannya dahulu dilakukan secara gotong royong. Para ibu, nenek, dan anggota keluarga lainnya bekerja bersama mulai dari mengupas singkong, memarut, memeras, hingga menjemurnya di bawah sinar matahari. Seluruh proses berlangsung sambil berbagi cerit, petuah, dan pengalaman hidup.Di sinilah sesungguhnya terjadi proses pewarisan budaya. Anak-anak belajar bukan melalui buku, melainkan melalui keterlibatan langsung dalam aktivitas keluarga.Tradisi seperti inilah yang kini semakin sulit ditemukan.
Mengapa Tepung Coco Mulai Menghilang?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan praktik pembuatan tepung coco semakin jarang dilakukan.
Pertama, perubahan pola konsumsi masyarakat. Kehadiran tepung terigu yang mudah diperoleh di pasar membuat masyarakat beralih pada bahan yang dianggap lebih praktis.
Kedua, perubahan gaya hidup. Proses pembuatan tepung coco membutuhkan waktu, tenaga, dan kesabaran. Di era modern, banyak keluarga lebih memilih membeli bahan pangan siap pakai daripada membuatnya sendiri.
Ketiga, berkurangnya regenerasi pengetahuan. Generasi muda tumbuh tanpa pernah diajarkan cara membuat tepung coco. Pengetahuan yang dahulu diwariskan secara lisan kini terputus karena para pelaku utamanya semakin lanjut usia.
Keempat, belum adanya dokumentasi yang memadai. Sebagian besar pengetahuan mengenai tepung coco masih tersimpan dalam ingatan para orang tua. Jika tidak segera didokumentasikan, maka pengetahuan tersebut berpotensi hilang selamanya.
Tepung Coco dan Mocaf: Sama atau Berbeda?
Dalam perkembangan ilmu pangan modern, masyarakat mengenal Modified Cassava Flour (MOCAF), yaitu tepung singkong yang diproses melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme tertentu sehingga memiliki karakteristik yang mendekati tepung terigu.
Bila dilihat dari bahan bakunya, tepung coco dan MOCAF sama-sama berasal dari singkong. Namun secara proses, keduanya tidak sepenuhnya identik.
Tepung coco merupakan produk tradisional yang dibuat berdasarkan pengalaman empiris masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun. Pada beberapa daerah, proses perendaman yang dilakukan secara alami memungkinkan terjadinya fermentasi spontan oleh mikroorganisme lokal. Sementara itu, MOCAF modern menggunakan teknik fermentasi yang lebih terkontrol sehingga menghasilkan mutu yang lebih seragam.
Dengan demikian, tepung coco dapat dipandang sebagai salah satu bentuk teknologi lokal pengolahan singkong yang memiliki kesamaan prinsip dengan MOCAF, meskipun dikembangkan melalui pendekatan tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal telah lama memiliki inovasi pengolahan pangan yang relevan dengan konsep ilmu pangan modern.
Potensi Ekonomi yang Belum Banyak Dilirik
Di tengah meningkatnya tren pangan lokal, bebas gluten, dan produk alami, tepung coco sebenarnya memiliki peluang ekonomi yang besar.
Jika proses produksinya dapat distandardisasi tanpa menghilangkan nilai tradisionalnya, tepung coco berpotensi menjadi produk unggulan daerah.
Berbagai produk turunan dapat dikembangkan, seperti:
kue tradisional;
mi berbahan singkong;
cookies;
roti campuran;
makanan bayi lokal;
pangan darurat;
hingga produk UMKM berbasis pangan sehat.
Pengembangan tersebut tentu memerlukan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku UMKM, hingga masyarakat adat.
Menyelamatkan Pengetahuan Sebelum terlambat
Banyak negara maju justru berlomba-lomba mengangkat pangan tradisional menjadi identitas nasional. Jepang mempertahankan miso dan natto, Korea mempopulerkan kimchi, sementara Italia menjaga tradisi pasta dan keju sebagai warisan budaya.
Indonesia pun memiliki kekayaan yang tidak kalah besar. Namun, banyak pangan lokal justru hilang sebelum sempat dipelajari secara ilmiah. Tepung coco merupakan salah satu contoh nyata. Jika para orang tua yang masih menguasai teknik pembuatannya tidak segera diwawancarai dan didokumentasikan, maka generasi mendatang mungkin hanya mengenal namanya tanpa pernah mengetahui bagaimana proses pembuatannya.
Pelestarian budaya tidak selalu harus dimulai dari museum atau festival besar. Ia dapat dimulai dari dapur rumah, dari cerita seorang nenek kepada cucunya, atau dari sebuah artikel sederhana yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Penutup
Tepung coco bukan sekadar tepung singkong Ia adalah simbol kecerdasan lokal masyarakat Tidore dan Makian dalam mengelola sumber daya alam, menjamin ketahanan pangan keluarga, dan membangun tradisi gotong royong yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah tantangan perubahan iklim, ketergantungan terhadap pangan impor, dan semakin pudarnya budaya lokal, menghidupkan kembali tepung coco memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menghidangkan makanan tradisional. Ini adalah upaya menjaga identitas budaya, memperkuat kedaulatan pangan daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis kearifan lokal.
Sudah saatnya tepung coco tidak lagi hanya hidup dalam kenangan para orang tua. Ia perlu didokumentasikan, diteliti, diajarkan kepada generasi muda, dan dipromosikan sebagai salah satu warisan pangan khas Maluku Utara yang layak dikenal oleh Indonesia, bahkan dunia.
Karena sebuah peradaban tidak hanya dikenang melalui bangunan bersejarah, tetapi juga melalui pengetahuan sederhana yang diwariskan dari tangan para leluhur-termasuk cara mereka mengolah singkong menjadi tepung coco.
JNewstv.com Berita Fakta & Realita