JNewstv.com | Halteng, Malut — Senja itu begitu syahdu di Desa Wedana, Kecamatan Weda, Halmahera Tengah. Langit berwarna jingga kemerahan, suara azan sebentar lagi akan berkumandang, menandai waktu berbuka puasa. Warga telah bersiap dengan takjil dan hidangan sederhana, menikmati suasana Ramadan yang penuh berkah.
Namun, di tengah ketenangan itu, jeritan tiba-tiba pecah. “Api! Kebakaran!”
Diperkirakan pada kejadian itu pukul 18.00 WIT. Senin 10 Maret 2025. Kilat merah membara melahap salah satu rumah dinas di Perumahan 50. Dalam sekejap, kobaran api menyembur liar, menari-nari ganas seperti lidah naga yang kelaparan. Asap hitam mengepul ke langit, menyatu dengan senja yang berubah kelam. Warga berlarian panik, sebagian membawa ember, sebagian lagi hanya bisa terpaku melihat rumah itu perlahan menjadi abu.
Seseorang segera menghubungi petugas pemadam kebakaran. Tak butuh waktu lama, sirene meraung memecah keheningan magrib. Tim Damkar Halteng datang dengan sigap, membawa selang dan semangat untuk menaklukkan si jago merah.
Di tengah asap yang menyesakkan, Marifat Hasan, seorang petugas Damkar, melangkah tegas. Matanya tajam meneliti sumber api, memastikan tidak ada bara yang bersembunyi di balik puing-puing hangus. “Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa,” katanya dengan napas tersengal.
Meski penyebab kebakaran belum pasti, dugaan mengarah pada kelalaian penggunaan kompor. Mungkin ada yang lupa mematikan api, atau mungkin ada selang gas yang bocor—semua masih menjadi misteri yang harus dipecahkan.
Angin malam mulai berhembus, membawa serta abu dan serpihan arang. Rumah dinas itu kini hanya tinggal rangka yang menghitam, saksi bisu betapa rapuhnya harta benda di hadapan amukan api.
Warga kembali ke rumah masing-masing, melanjutkan berbuka dengan hati yang masih berdebar. Sementara itu, tim Damkar tetap berjaga, memastikan bara terakhir telah padam, agar malam tak kembali diterangi oleh api yang menari di kegelapan. (IH)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita