Home / Berita / Citizen Journalism / Akal-akalan Versus Kecerdasan SQ-EQ-IQ Picu Aib

Akal-akalan Versus Kecerdasan SQ-EQ-IQ Picu Aib

Catatan Tercecer RR ke-44,

JNewstv | Com, Jakarta

September Ceria-nya yang didendangkan Vina Panduwinata tidak dirasakan bangsa Indonesia pada tahun 2022 ini, yang dibuat berpikir serius sambil menerka liar dengan narasi-narasi kenaikan bahan bakar minyak alias BBM di tengah turunnya harga minyak dunia. Menyusul aneka narasi kasus tewasnya Brigadir Polisi Joshua Hutabarat di rumah Kadivpropam Polri, Irjen Ferdi Sambo, dan pengumuman Mahkamah Konstitusi bahwa seorang presiden bisa memperpanjang periodenya asalkan menjadi wakil presiden; layaknya tayangan sinetron.

“Nggak ada akhlak,” gumam seorang milenialis mengomentari beberapa video dari gadget di tangannya terkait tayangan temannya disuapi kwetiaw panas baru diangkat dari kuah panas sehingga sang teman mengunyah kepanasan. Juga ketika beberapa preman menertawakan seorang temannya yang jatuh tersandung akar pohon saat jalan bersama.

Serupa tapi tak sama juga dirasakan penulis dalam soal kenaikan BBM, kasus Ferdi Sambo, dan putusan MK. Alasannya bukanlah perkara yang sulit-sulit amat dalam sebuah institusi negara; mulai dibiayai negara, personalia yang profesional dan proporsional, hingga keistimewaan menempuh diskresi kebijakan untuk menemukan solusi.

Alasannya jelas, abdi negara wajib patuh & taat bagi kedaulatan negara dan bukan kepentingan perorangan atawa kelompok apalagi oligarki. Dimana setiap individu yang cenderung Homo Homini Lupus-nya Thomas Hobes, alias manusia menjadi serigala bagi manusia lain, sudah wajib ditiadakan sewaktu berhadapan dengan negara.

Memang butuh akhlak untuk mengurainya. Journal of Moral Education mengungkapkan adanya antara moralitas dan agama dalam pemikiran Islam. Bahkan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak,” (HR Ahmad).

Akhlak adalah hal yang penting bagi seorang muslim. Sebab, orang yang beradab dan berakhlak mulia jika mempunyai ilmu akan mudah untuk mengamalkan dan tidak sombong dengan ilmunya. Dalam Islam, akhlak dapat dibagi menjadi akhlak kepada Allah SWT dan juga kepada sesama manusia.

Artinya, kerumitan penguraian persoalan atau kasus bukan dikarenakan pelik alias ruwetnya masalah tersebut melainkan adanya kepentingan di luar urusan kebangsaan yang ditutup-tutupi. Alhasil, muncul narasi-narasi cenderung akal-akalan yang berujung pembodohan bersumber dari kebohongan.

Bualan Abunawas

Kebohongan yang dilegalkan penguasa pernah dikisahkan dalam cerita 1001 Malam dimana Abunawas tertawa penuh bahagia usai melihat dalam topinya hingga dipertanyakan sejumlah tetangga yang berpapasan di pasar.

“Aku sedang melihat surga yang dihiasi barisan bidadari cantik menawan,” jawab Abunawas meyakinkan. Spontan orang berkerumun ingin melihatnya pula. “Tapi saya tidak yakin kamu bisa lihat apa yang saya lihat karena hanya orang beriman yang bisa melihatnya.”

Sebagian membenarkan omongan Abunawas. Tetapi sebagian lain yang tidak melihat mengungkapnya sebagai pembohongan. Dan, kisah heboh itu sampai dilaporkan kepada Sultan Al-Rasyid. “Ya benar saya melihatnya,” kata Sang Raja karena khawatir dituduh tidak beriman dan saleh kalau menyatakan tidak melihat apa-apa dalam topi.

Singkatnya, rakyat pun ikut membenarkan “kebohongan” Abunawas. Abunawas, dalam hati tertawa sinis sambil bergumam, “Beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan pun akan merajalela.”

Kecerdikan konspirasi (kebohongan) opini publik Abu Nawas, telah menumbangkan kebenaran dan kejujuran. Akhirnya, kecerdasan tanpa kejujuran dan keberanian, takluk di bawah kecerdikan yang dilakonkan dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri meski pun itu adalah kebohongan yang besar dan nyata.

Padahal kejujuran bagian dari adab dan akhlak, yang lebih baik daripada ilmu. Sebagai contoh seperti dialami tokoh nasional KH Agus Salim. Diplomat ulung yang menguasai tujuh bahasa asing itu pernah dibully oleh peserta sidang dalam forum dunia (Perserikatan Bangsa-bangsa) lantaran jenggotnya dimiripkan kambing.

Ejekan itu ditepis cerdas oleh putra Minangkabau Sumatera Barat itu, seperti dikisahkan Jef Last dalam Membongkar Manipulasi Sejarah (2009) karya Asvi Warman Adam. Dengan tenang, Agus Salim berkata, “Tunggu sebentar. Sungguh menyenangkan, kambing-kambing pun mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Sayang mereka kurang mengerti bahasa manusia sehingga menyela dengan cara yang kurang pantas.”

“Saya sarankan kepada mereka keluar ruangan, sekadar makan rumput di lapangan. Kalau pidato saya untuk manusia ini selesai, mereka akan dipersilahkan masuk kembali dan saya berpidato dalam bahasa kambing untuk mereka,” lanjutnya, telak. Mereka yang diusir itu bagi yang bersuara mengembik-embik di antara peserta yang hadir, di tengah pidato mantan Menteri Luar Negeri yang memperjuangkan pengakuan di forum internasional baik PBB & Timur Tengah.

Pahlawan Republik Indonesia sekelas Agus Salim juga pernah mengalami situasi sulit, dan butuh siyasah dalam menemukan solusi; bukan akal-akalan yang menafikan kecerdasan intelektual, spiritual, atau emosional. Padahal, bisa saja Agus Salim ngambek alias bawa perasaan (baper) tetapi tidak dilakukannya lantaran penulis meyakini kematangan SQ-EQ-IQ telah mengedepankan kepentingan institusi negara katimbang kepentingan pribadi. Wallahu ‘Alam Bisshowab.***RR

Penulis : Rinaldi Rais, Wartawan Al-Faqir

About Redaktur

Check Also

Andalalin PT Adhita Nikel Abaikan Saran Dishub Haltim Sudah Ingatkan Sejak 2025

HALTIM, JNewstv.com — Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), Maluku Utara, mengungkapkan bahwa PT Adhita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII