
JNewstv.com | JAKARTA
Ketua Gerakan Ka’bah Memanggil (GKM), Habil Marati, mengajak kader partai persatuan pembangunan bersama-sama mengembalikan keagungan marwah partai berlambang Ka’bah sebagai penentu Pemilihan Umum 2024.
“Semangat GKM bukan memundurkan ketua umum Soeharso Monoarfa tetapi mengembalikan keagungan marwah PPP ikut menentukan Pemilu 2024 dan seterusnya, sebagaimana setara dengan PDIP (d/h PDI) dan Golkar semasa Orde Baru,” ujar Bilmar, panggilan akrab Habil Marati, kepada media, Rabu (29/6).
Dijelaskannya, GKM terus mendorong prestasi PPP mendapatkan kursi legislatif minimal 10% dengan ikut mengusung calon presiden pilihannya dan bukan pemain cadangan mengikuti partai-partai bukan pemenang Pemilu.
“Koalisi Indonesia Bersatu bukan tempat cocok buat PPP, itu yang kami prihatinkan. Karena marwah PPP seharusnya berkolaborasi dengan partai pemenang Pemilu,” ujar Habil, yang mengungkapkan adanya sejarah panjang dengan PDIP.
Diketahuinya, sejumlah kebijakan Ketum Soeharso memperburuk citra partai. Misalnya, PPP ikutan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan surat penetapan (SK) kepengurusan DPP berbeda dengan hasil musyawarah daerah bersangkutan baik tingkat DPD, DPC ataupun PAC.
“Dua hal itulah yang menjadi keprihatinan teman-teman GKM, yang harus segera dibenahi demi mengembalikan marwah PPP sebagai partai berlambang Ka’bah yang bergengsi, yang sejajar semasa Orde Baru dengan tiga partai yaitu Golkar, PPP, PDI,” ujar Bilmar, panggilan akrab Habil Marati, yang juga tokoh Himpunan Mahasiswa Islam semasanya.

Diberitakan, tuntutan mundur kepada Ketum Soeharso Monoarfa disuarakan kader dari Jakarta dan daerah-daerah ke kantor-kantor PPP setempat. Alasan pendemo itu bahwa kebijakan Ketum Soemo ditengarai memecah belah kader seperti SK ketua terpilih wilayah berbeda dengan hasil pilihan kader daerah bersangkutan.
Menanggapi ini, Ketum Soeharso Monoarfa pernah mengakui goncangan internal yang ditunggangi eksternal semakin kencang ketika PPP ikutan KIB karena ketidaksukaan. “Menurut saya, internal yang ditumpangi eksternal. Kalau internal gak sekuat itu, gak semampu itu. Tapi buat saya, saya sudah cek tertentu-tertentu, who knows?” ujarnya, seperti dikutip Tempo, saat mengunjungi Gedung Tempo, Senin (27/6).
Ikuti Pemenang
Habil Marati mengisyaratkan GKM mendukung calon presiden yang diusung partai pemenang Pemilu 2019, yang mengembalikan demokrasi Indonesia pada masa-masa keemasan stabilitas negara kesatuan Republik Indonesia.
“PPP memiliki sejarah panjang dengan partai pemenang Pemilu 2019, dan stabilisatornya adalah duet sipil-militer,” ujarnya seraya mengingatkan duet sipil-militer itu bukan berarti adanya dikotomi melainkan sebagai pasangan teruji bagi stabilitas NKRI.
Karena itulah, sambung Bilmar, GKM mengajak kader-kader PPP untuk merapatkan barisan dalam aliansi mengembalikan keagungan marwah partai berlambang Ka’bah sekaligus membersihkan kader yang cuma mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok.
Mengacu survei terbaru Charta Politika menunjukkan, elektabilitas PPP tak mencapai ambang batas parlemen (parliamentary threshold) kisaran 4 persen. PPP berada di peringkat ke-8 dari daftar elektabilitas partai dengan 2,7 persen.
Berada di bawahnya, terdapat PAN dengan angka lebih kecil 2 persen. Meski demikian, survei ini menemukan masih ada 15,8 persen yang tidak menjawab atau menjawab tak tahu. Sehingga, ini bisa menjadi undecided voters yang potensial bagi keduanya. (Nanda/Red)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita