JNewstv.com | Maluku Utara, Ternate – Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-12, Komunitas Jarod menggelar diskusi publik bertema **”Pilkada dan Wajah Maluku Utara ke Depan”**. Acara yang berlangsung di Ternate ini menghadirkan para bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Maluku Utara sebagai pusat perhatian. Diskusi ini bukan hanya menjadi panggung dialog, tetapi juga kesempatan bagi para calon untuk membuktikan kapasitas mereka sebagai pemimpin masa depan. Sabtu, 14 September 2024.
Bang Dade, selaku pengurus dan panitia acara, menegaskan sejak awal bahwa forum tersebut dirancang khusus untuk mengundang langsung para calon, tanpa perwakilan atau juru bicara. “Kegiatan ini kami selenggarakan untuk menguji kapasitas langsung para calon gubernur. Karena itu, kami tidak memberikan ruang bagi yang diwakili. Ini adalah forum eksklusif untuk mereka yang akan bertarung di Pilkada, bukan orang lain yang berbicara atas nama mereka,” ujar Bang Dade.
Pernyataan tegas ini diiringi dengan penekanan bahwa setiap undangan telah disebarkan dan dikonfirmasi jauh hari sebelumnya. Namun, hingga malam diskusi berlangsung, dua calon gubernur yakni Aliong Mus dan Benny Laos tidak hadir. Absennya mereka memicu respons dari panitia dan peserta diskusi. “Ketidakhadiran mereka malam ini membuat kami mempertanyakan keberanian dan kesungguhan mereka sebagai calon pemimpin. Kami menganggap mereka tidak memiliki kapasitas untuk menghadapi masyarakat secara langsung,” ujar Bang Dade lagi, dengan nada kecewa.

Acara yang digelar ini, menurut Komunitas Jarod, bukan sekadar diskusi biasa. Ini adalah ajang bagi para calon pemimpin untuk beradu ide dan gagasan di hadapan publik. Kehadiran di acara ini dinilai sebagai wujud komitmen para calon dalam mendengarkan aspirasi masyarakat dan menyampaikan visi mereka secara langsung.
Dari empat calon yang diundang, hanya Sultan Tidore Husain Alting yang hadir sebagai bakal calon Gubernur Maluku Utara bersama pasangannya, Muhammad Kasuba. Turut hadir Basri Salama sebagai calon Wakil Gubernur. Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan untuk berdiskusi terbuka dan siap diuji kapasitasnya di depan masyarakat.
“Kami menghargai kehadiran Sultan Tidore dan Muhammad Kasuba serta Basri Salama, karena mereka menunjukkan keberanian dan kesungguhan untuk berbicara langsung kepada masyarakat. Inilah sikap yang kami harapkan dari seorang calon pemimpin,” kata salah satu peserta diskusi.
Dalam forum tersebut, para calon yang hadir diberi kesempatan untuk memaparkan visi mereka tentang masa depan Maluku Utara. Diskusi berlangsung hangat dengan berbagai pandangan yang diajukan oleh peserta, mulai dari isu pembangunan infrastruktur, ekonomi maritim, hingga kebijakan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Diskusi ini menjadi tolok ukur awal bagi masyarakat untuk menilai calon pemimpin yang akan mereka pilih pada Pilkada mendatang. Ketiadaan dua calon yang tidak hadir, Aliong Mus dan Benny Laos, menjadi sorotan utama, dengan beberapa peserta menganggap ketidakhadiran ini sebagai sinyal kurangnya komitmen.
“Ini adalah forum terbuka yang sangat penting, di mana para calon bisa menunjukkan kapasitas mereka. Ketidakhadiran Aliong Mus dan Benny Laos adalah hal yang mengecewakan. Bagi saya, ini menjadi pertanyaan besar tentang sejauh mana mereka benar-benar siap memimpin Maluku Utara ke depan,” ujar salah satu peserta diskusi.
Di penghujung acara, diskusi publik ini diharapkan memberikan gambaran jelas bagi masyarakat mengenai siapa di antara para calon gubernur yang memiliki visi dan kapasitas nyata untuk membawa perubahan bagi Provinsi Maluku Utara. Bagi Komunitas Jarod, diskusi ini bukan sekadar peringatan ulang tahun, melainkan kontribusi nyata untuk masa depan daerah mereka.
Dengan Pilkada yang semakin dekat, masyarakat Maluku Utara akan semakin kritis dalam menentukan pilihan, dan diskusi semacam ini diharapkan menjadi ruang penting untuk membentuk pandangan publik tentang siapa pemimpin yang layak membawa perubahan nyata di provinsi ini.
Penulis : Yunda
JNewstv.com Berita Fakta & Realita