Home / Berita / Nasional / KETERPURUKAN PANGAN DI TENGAH ZONA PENDEMI COVID-19

KETERPURUKAN PANGAN DI TENGAH ZONA PENDEMI COVID-19

KETERPURUKAN PANGAN DI TENGAH ZONA PENDEMI COVID-19


Oleh : Faisal Kurniawan Sangadji

Dalam perkembangan dunia saat ini, masalah pangan telah menjadi sebuah isu menarik yang terus dibahas. Betapa tidak, hal ini merupakan kebutuhan primer bagi jutaan jiwa penduduk yang ada di dunia. Sebab dari asupan panganlah mereka mampu mempertahankan hidup. Maka tidak heran persoalan pangan mencuat menjadi isu global yang harus dicarikan solusinya. Terlebih ketika pangan telah mengalami ancaman berupa krisis pangan yang telah menjalar ke beberapa Negara khususnya bagi Negara berkembang termasuk Indonesia.

Ruang ekonomi sosial masyarakat indonesia sedang tidak baik baik saja, akhir tahun 2019 sampai menjelang april 2020 ini negara bhineka tunggal ika mengalami degradasi yang cukup realistis. Dibawah pengaruh bencana nasional covid-19 pemerintahan jokowidodo mulai ambyar memikirkan persiapan untuk langkah pencegahan covid.
Setelah tahapan social distancing dengan instruksi pemerintah untuk lockdown di semua daerah ini mengakibatkan asumsi laba yang sangat signifikan untuk kebutuhan masyarakat jika harus lockdown full. Dalam hal ini adalah kebutuhan pangan yang menjadi prioritas konsumen masyarakat di daerahnya.

Maluku utara adalah salah satu wilayah yang memiliki gugusan tanah yang baik untuk bercocok tanam dan melakukan sumberdaya pertanian. Namun mirisnya sebagian besar stok pangan didatangkan dari luar malut. Ini artinya stok pangan lokal belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.

Dari sembilan bahan pokok, gula pasir yang dianggap paling rawan dari sisi harga dan stok. Kelangkaan gula pasir hingga skala nasional ini adalah konsekuensi logis dari upaya lockdown untuk upaya penanganan covid. Bagaimana mungkin kita menutup akses impor, sedangkan ini adalah tahapan pemenuhan kebutuhan di seluruh daerah.

Hal seperti ini menjadi pekerjaan rumah yang amat serius bagi pemerintah daerah. Khususnya maluku utara. Sebab jika wabah covid ini semakin parah, ketersediaan kebutuhan pangan pun semakin melemah. Yakin dan percaya pemenuhan kebutuhan ketehanan pangan di malut hanya bertahan 2 sampai 3 bulan saja jika upaya pemerintah dalam mengatasu covid masih begini-begini saja. Sebab yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengolah hasil pribumi dari tanah sendiri untuk mengantisipasi keterpurukan di ruang sosial ekonomi di maluku utara.

Ada jutaan anak petani yang mengeruk tanah kebun untuk kebutuhan internet gratis anak di kota, ada banyak tenaga medis yang mati syahid sebagai pahlawan kesehatan untuk orang banyak demi kepentingan negeri ini. Mari sama sama sadar untuk selamatkan kita semua. Lawan covid19 !!!!!

About jnews

Check Also

Hadiri HUT Ke-81 TNI, Wamen Ossy: Perjalanan Panjang Pengabdian Dalam Menjaga Kedaulatan Bangsa

JNewstv.Com | Jakarta –Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII