JNewstv.com | Jakarta.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Suhanto, mengisyaratkan siap berkoordinasi dengan BUMN & pelaku usaha swasta untuk melakukan operasi pasar & ketersediaan pasokan untuk stabilisasi harga.Hal ini dikatakannya kepada awak media. (09/03/20)
Suhanto mengatakan bahwa untuk mengantisipasi ulah spekulan dan pelaku usaha penimbun sembako serta aanya gejolak harga pangan menjelang Bulan Puasa & Lebaran 2020.Pihaknya sudah berkoordinasi untuk operasi pasar apabila terjadi gejolak harga akibat gangguan pasokan menjelang bulan Puasa & Lebaran 2020. “Kami, bersama Dirjen PKTN Veri Anggrijono, Satgas Pangan, serta dinas perdagangan daerah-daerah, melakukan pengawasan intensif mengantisipasi kemungkinan aksi spekulasi atau penimbunan.” ungkapnya.
Ia menjelaskan untuk kelancaran distribusi dan efisiensi biaya logistik juga diupayakan bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan melalui Gerai Maritim. Program kemenhub itu membantu menyalurkan barang kebutuhan pokok dari pulau Jawa ke daerah T3 (tertinggal, terdepan, terluar).
Sementara itu Yadi Yusriyadi, tenaga ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI), kepada wartawan menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas pangan seperti bawang putih dan gula sudah terasa sejak awal Februari 2020. Bawang putih tembus Rp 45.000-60.000 per kilogram, sedangkan gula Rp 14.000-15.600 per kg.” Kondisi ini murni stok menipis, diprediksi tahun ini bisa defisit 29.000 ton.Prediksi AGI itu apabila tak ada impor karena stok gula kristal putih tersisa 1,08 juta ton, ditambah produksi 2,05 juta ton atau sebanyak 3,13 juta ton dibandingkan konsumsi domestik 3,16 juta ton.,”terangnya.
Menanggapi kondisi itu, Kemendag telah menerbitkan Surat Perizinan Impor (SPI) untuk 438.802 ton gula kristal mentah (raw sugar) yang diolah menjadi gula kristal putih (GKP) atau gula siap konsumsi. Sementara bawang putih diberi SPI untuk 90.000 ton, dari rekomendasi impor produk holtikultura (RIPH) Kementan sebanyak 103.000 ton pada Maret 2020. (Harun /Fudin)
JNewstv.com Berita Fakta & Realita