Home / Berita / Wali Kota Tidore Geram! Puisi Diduga Rasis Picu Amarah Warga Bobo Demo dan Blokade Jalan

Wali Kota Tidore Geram! Puisi Diduga Rasis Picu Amarah Warga Bobo Demo dan Blokade Jalan

Tidore, JNewstv.com — Muhammad Sinen akhirnya angkat suara dan mengecam keras dugaan tindakan rasisme yang dilakukan oleh seorang seniman dalam sebuah pertunjukan bertajuk Monolog Pahlawan Nasional. Insiden tersebut memicu kemarahan warga Kelurahan Bobo hingga berujung aksi demonstrasi dan pemalangan jalan pada Rabu (29/4/2026).

Aksi warga yang memblokade akses jalan utama di wilayah Bobo sempat mengganggu aktivitas masyarakat. Situasi ini langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Wali Kota Tidore turun langsung ke lokasi dan berdialog dengan massa aksi di depan Kantor Kelurahan Bobo.

Dalam keterangannya, Muhammad Sinen menegaskan bahwa dirinya tidak mentolerir segala bentuk tindakan rasisme yang berpotensi memecah belah persatuan masyarakat.

“Sebagai kepala daerah yang dipercayakan oleh masyarakat, saya tidak terima jika warga saya dihina. Tapi kita negara hukum, maka semua persoalan harus diselesaikan sesuai aturan yang berlaku,” tegasnya di hadapan massa aksi.

Ia juga meminta warga untuk menghentikan aksi blokade jalan demi menjaga ketertiban umum serta memberikan ruang bagi masyarakat lain untuk beraktivitas.

“Saya minta aksi hari ini dihentikan, jangan ganggu ketertiban umum, dan tidak boleh main hakim sendiri. Biarlah pihak kepolisian bekerja sesuai ketentuan yang berlaku,” lanjutnya.

Lebih jauh, Wali Kota menekankan agar kasus ini tidak diselesaikan secara kekeluargaan semata. Menurutnya, proses hukum harus ditempuh agar memberikan efek jera terhadap pelaku.

“Saya berharap kasus ini tidak hanya diselesaikan secara kekeluargaan. Harus ada efek jera, karena tindakan rasisme seperti ini bukan baru sekali terjadi, tetapi sudah berulang kali dialami masyarakat Bobo,” ujarnya.

Selain mendorong laporan resmi ke pihak kepolisian, Wali Kota juga meminta masyarakat untuk menyiapkan bukti-bukti sejarah yang kuat, mengingat persoalan ini turut menyentuh aspek historis Tidore.

Versi Sejarah Dipersoalkan, Warga Bobo Tolak Narasi Video Viral. Sementara itu, Usman Konong menegaskan bahwa narasi dalam video yang beredar luas di media sosial tidak sesuai dengan fakta sejarah.

Menurutnya, dalam video tersebut disebutkan bahwa pada tahun 1949, Sultan Zainal Abidin Syah membawa masyarakat Papua untuk mendiami wilayah Bobo. Namun klaim tersebut dibantah keras oleh pemerintah kelurahan dan warga.

“Kelurahan Bobo baru terbentuk pada tahun 1967, tepatnya bulan November. Jadi narasi dalam video itu tidak sesuai dengan sejarah. Kami masyarakat Bobo menolak keras hal tersebut,” tegas Usman.

Ia juga memastikan bahwa pihaknya bersama masyarakat akan menempuh jalur hukum dan melaporkan kasus tersebut kepada aparat kepolisian.

“Kami akan melaporkan ini ke pihak berwajib agar diproses secara tegas sesuai hukum yang berlaku,” pungkasnya.

Situasi Berangsur Kondusif, Polisi Diminta Bertindak Tegas. Setelah dialog dengan Wali Kota, situasi di lokasi aksi berangsur kondusif dan sebagian warga mulai membuka akses jalan yang sebelumnya diblokade. Meski demikian, desakan agar aparat penegak hukum segera bertindak tegas terhadap pelaku rasisme terus menguat.

Kasus ini menjadi sorotan publik di Maluku Utara, terutama karena menyangkut isu sensitif seperti rasisme dan sejarah lokal. Pemerintah daerah pun menegaskan komitmennya untuk menjaga persatuan serta memastikan setiap konflik diselesaikan melalui jalur hukum yang adil dan transparan.

 

Ibrahim Yusuf

About jnews

Check Also

Pos Pengamanan Hutan di Wasile Selatan Ludes Terbakar, Warga Pertanyakan Pengawasan

Haltim, JNewstv.com — Keberadaan pos pengamanan kawasan hutan di Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, kembali …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

HUT Bhayangkara-74 Kompi 1 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Malut

Ucapan HUT BHAYANGKARA 74 Dari FPII